Sudah ada dua pekan Marto Buang bertindak laku seperti ini, orang-orang begitu ada rasa haru dan iba ketika melihatnya di sepanjang jalan jendral parmin seperti orang aneh. Terkadang di waktu siang ia tertawa, begitu sore terlihat murung, ketika sudah malam menangis sejadi-jadinya. Begitu terus setiap hari-harinya. Sebenarnya orang lain ingin sekali membantu atas keadaannya yang begitu memilukan, namun dari pihak keluarganya selalu mengusir orang yang ingin bertamu di rumahnya. Walaupun dari pihak keluarga mengetahui maqsud dari datangnya orang-orang. Alasan dari pihak keluarganya orang pun tak ada yang tahu-menahu. Tapi ada yang bilang bahwa alasan pihak keluarga menolak tamu yang ingin membantu atas dasar trauma yang menjadi sebab Marto Buwang menjadi seperti ini. D i warung-warung kopi topik pembahasan nya Marto Buwang di masjid Marto Buwang, di pasar Marto Buwang, di acara rapat-rapat ...
“Hidup tak selalu hadir dalam kisah yang utuh. Kadang hanya serpihan-serpihan kecil yang menyusun makna.”