Sudah ada dua pekan Marto Buang
bertindak laku seperti ini, orang-orang begitu ada rasa haru dan iba ketika
melihatnya di sepanjang jalan jendral parmin seperti orang aneh. Terkadang di waktu
siang ia tertawa, begitu sore terlihat murung, ketika sudah malam menangis
sejadi-jadinya. Begitu terus setiap hari-harinya. Sebenarnya orang lain ingin
sekali membantu atas keadaannya yang begitu memilukan, namun dari pihak
keluarganya selalu mengusir orang yang ingin bertamu di rumahnya. Walaupun dari pihak keluarga mengetahui maqsud dari datangnya
orang-orang. Alasan dari pihak keluarganya orang pun tak ada yang tahu-menahu.
Tapi ada yang bilang bahwa alasan pihak keluarga menolak tamu yang ingin
membantu atas dasar trauma yang menjadi sebab Marto Buwang menjadi seperti ini.
Di warung-warung kopi topik pembahasannya Marto Buwang di masjid Marto Buwang, di pasar
Marto Buwang, di acara rapat-rapat juga Marto Buwang. Selama dua pekan ini
dusun sedang hangat-hangatnya membicarakan tentang Marto Buwang.
“Marto Buwang Marto Buang, taqdir memang ndak bisa ditolak, mau giamana
lagi yo tho yu? Pak rt sama pak rw sudah punya rencana menjenguk Marto Buang,
eh sampai di rumahnya malah di usir sama bapaknya”. Kata emak Sri mengawali obrolan Marto Buang di warung sayur.
“Itu namanya rezeqi ditolak kan mbak yu,
sudah tahu ekonominya pas-pas an, biaya pengobatan Marto Buang sudah pasti
gede, mereka malah menolak keberuntungan”. Tukas ibu painah.
“Ya yang namanya dari keluarganya memang
sudah ndak lagi sholat kok bu, padahal rumahnya deket sama mushola, Marto
Buwangnya saja yang rajin ke mushola, malah jadi imam nya sekaligus, sekarang
kasihan sama pak mudin, sudah tua di tugaskan lagi menjadi imam mushola”. Mbok rini tak mau kalah.
“Mbok jangan salah, mungkin saja
keluarganya tetep sholat tapi dirumah”. Jawab penjual
sayur, yu Rikah.
“Lo lo gimana si yu, rumahnya wae lima
langkah dari mushola, lha kok bisa-bisanya ndak pernah kelihatan di mushola lagi”. Mbok rini bertanya sekaligus menjawabnya
sendiri.
“Gini aja, besok ayo kita ibu-ibu ngunjungi
rumahnya Marto Buang, nanti tak bilang sama pak rt lagi Mudah-mudahan pak rt
ndak putus asa gimana, mbok Rini, ibu Painah yu Rikah ikut gak?”
“Ikut semua lah, ndak tau kenapa, aku kok sayang banget sama
anak itu”, yu Rikah menjawab.
“Wes wes ini, bayam sama wortel lima
bungkus berapa yu Rikah?” Tengah ibu Painah mengakhiri.
Sedangkan di warung kopi
pembicaraan mengenai Marto Buwang seperti halnya diskusi para bapak-bapak untuk
menemukan solusi jalan keluar bagi permasalahan Marto Buwang tidak boleh untuk
diperobatkan, pembahasan dimulai dari ajakan dari Kasrobin.
“Pak lek, gimana kita bareng-bareng sak rombongan menemui Marto Buang di rumahnya, katanya lagi ibu-ibu gengnya mbok
Rini juga mau kesana.” kata Kasrobin pelanggan warung kopi asam urat
mengawali
“Kamu ki gimana to, lawong pak rt sama pak
rw saja ditolak kok apa lagi kamu yang bukan siapa-siapa,” tukas pak Sopiin sembari mengepulkan asap rokoknya.
“Iming-imingi uang, atau yang lain pasti
mau, hehe,” canda mas Lik yang ikut-ikutan nimbrung.
“Gini wae, besok kita ngomong baik-baik
sama pak Sumo, biar pak rt yang ngomong gimana?” Solusi dari pak Sopiin.
“Setuju aku in, aku tak ikut, aku juga
prihatin sama Marto Buang sama kondisinya, dia itu seperti cucu ku sendiri”, mbah Pardjo tak mau
ketinggalan,”tambah lagi sama pak Sumi, pak Sumi itu teman pleknya
pak Sumo, kita bujuk pak Sumi biar kita bisa ngomong sama pak Sumo.”
“Setuju mbah, nanti aku tak ngomong sama
pak Sumi.” Kata Kasrobin sambil menyeruput kopi hitamnya.
Keesok harinya rombongan bapak ibu yang diketuani oleh pak rt yang
didampingi pak Sumi, berangkat menuju rumahnya Marto Buang yang berdekatan
dengan mushola, mula-mula pak Sumi agak ragu tapi setelah diyakinkan oleh pak
rt mbah Karmin dan mbok Rini, akhirnya pak Sumi menghela nafas bismillah. Belum lagi
rombongan bapak ibu menginjak tanah halaman rumah Marto Buang, bapak Sumo, ayah
dari Marto Buang melihat kedatangannya, dengan sejurus
pintu depan rumahnya ditutup cepat-cepat. Melihat Pak Sumo menutup pintu, rombongan bapak-ibu kesal setengah mati, lawong
niatnya menolong kok dikira mau maling, kata bu Painah kesal.
“Apa kataku pak In, udah balik saja sia-sia saja.
“Heh, pak lek. kamu itu
niat menolong mbok jangan setengah-setengah, pak Sumi, monggo pak, sampeyan
yang nyamperin.”
Akhirnya pun pak Sumi, teman
pleknya Pak Sumo atas anjuran dari mbah Karmin dan pak rt, yang mengetuk rumah
Marto Buang sedang para rombongan lainnya menunggu agak
jauh dari pintu rumah. Dengan ucapan bismillah Pak Sumi mengetuk pintu pelan-pelan, namun dengan setengah berteriak Pak Sumo menjawab
ndak usah kemari, Pak Sumi mencoba untuk ngomong dari belakang pintu, tentang
maqsud kedatangan para rombongan. Mengetahui suara yang di balik pintu temannya
sendiri, Sumi, akhirnya dengan pelan-pelan pintu depan terdengar pintu dibuka.
Para rombongan serentak mengucap syukur alhamdulillah pak Sumo bisa di atasi
pak Sumi.
Setelah para rombongan masuk ke
rumahnya, mereka terhentak kaget, rumahnya seperti kapal pecah. Kaki-kaki kursi
patah, meja retak, tembok penuh dengan coret-cemoret. Dengan mimik wajah
keheranan dari semua rombongan bapak ibu, Pak
Soma dengan sedikit terpaksa menceritakan yang sebenarnya tentang penyebab
kondisi dari anaknya Marto Buang.
Jadi bapak-ibu
sekalian Marto Buang itu sebelum hampir tiga pekan ini.
Malam hari tanggal kesepuluh
Syuro. Marto Buang dikunjungi oleh jamaah desa sebelah. Kalau tidak salah
namanya, pak Man Yalek. Pak Man Yalek berkunjung ke rumah hampir mendekati jam
satu malam, ya yang namanya Marto buang, kan bapak ibu sendiri sudah tau
wataknya. Dia tetep membukakan pintu depan dan menyambut kedatangan Man Yalek
dengan hangat. Setelah mengobrol basa-basi, pak Man Yalek mengatakan maqsud
dari bertamunya malam-malam hampir fajar ini. Marto Buang sedikit terlihat
serius menunggu ucapan lanjutan dari Pak Man Yalek. Kalau tidak salah ya
bapak-ibu, lawong saya mendengarkan perbincangan kedua orang itu dari kamar
sebelah dan dalam kondisi ngantuk. Pak Man Yalek memberikan sesobek kertas yang
tak tahu tulisannya apa. Semenjak kedatangan pak Man Yalek, anakku, selalu
membaca isi dari kertas pemberian dari pak Man Yalek, setiap malam jam dua
hingga mendekati subuh. Begitu terus tak pernah berhenti bahkan sampai sekarang
dalam kondisinya seperti itu, Marto Buang tetep membacanya. Tapi anehnya
bapak-ibu kertas yang biasanya dipergunakan Marto Buang baca, suatu pagi aku
penasaran dengan kertas tersebut. Diam diam aku masuk ke kamarnya Marto Buang,
dan mencari kertas pemberian dari pak Man Yalek. Saat itu kondisi Marto Buang belum seperti sekarang, Setelah ku buka lipatan kasur akhirnya ketemu tapi aku bingung, setelah kertas itu aku buka isinya kosong alias tak ada tulisan sehuruf
pun. Aku yakin kertas pemberian dari pak Man Yalek ya itu, kertas dibawah kasur
Marto Buang. Tapi kok ndak ada tulisannya apa-apa. Mulai dari dua pekan lalu
Marto Buang sudah kelihatan keanehannya. Pernah sehabis sholat maghrib di
mushola, Marto Buang membaca al-quran saat berpapasan dengan satu ayat, Marto
Buang senyum-senyum sendiri, qurannya digendong dan diayung-ayung kan seperti
halnya bayi. Di ayat satu lagi Marto Buang nangis kejer, qur`annya di
cium-ciumi, di satu ayat lagi Marto Buang membaca qur`an dengan nada marah,
qur`anya disobek-sobek dan dibuang. Setelah itu ya begini lah pak buk.
Pak Sumo ayahnya Marto Buang tidak
sanggup meneruskan cerita kondisi Marto Buang, pak Sumo menitikkan air matanya.
“Udah udah pak Sumo diistighfari saja.
Moga-moga nak marto buang sehat seperti semula, aku kangen sama dakwahnya di
pengajian rutinan ibu-ibu di masjid.” Kata ibu yu Rikah
menyabarkan.
“Anak pak Sumo itu disenangi lo pak sumo
sama orang-orang dusun, nak Marto Buang anak yang baik,
tahu sopan santun, bicaranya halus, pinter ngaji lagi.” Puji pak rt
“Cucuku itu Salimah, kalau bapak mau, mau
tak jodohin sama anaknya pak Sumo”. Kejut dari mbah
pardjo.
“Wah, mbah Pardjo saingan dengan pak rw
dong, katanya mau ngelamarin anaknya si Anah itu dengan nak Marto Buang setelah
sembuh.”
“Loh yo ndak bisa, cucuku itu lebih cantik kok.”
“Wes wes mbah Pardjo pak rt jangan ribut
soal jodohnya orang lain,
itu sudah dipikirin sama
pengeran.” Tengah kasrobin dan lalu melanjutkan “Gini pak Sumo, Kami rombongan bapak ibu disini,
hendak ingin mengobatkan Nak Marto Buang di rumah sakit, insyaallah biaya sudah
ada yang menyiapkannya.”
Pak Sumo seketika menangis
tersengguk-sengguk mendengar anaknya ingin dirujukkan di rumah sakit, pak Sumo berterimakasih banyak dengan bapak-ibu
rombongan. Mbok Rini, ibu Painah dan mas Lik
ikut terseret kesedihan dari pak Sumo. Setelah itu pak Sumo ingin memberi kabar ke anaknya yang sedang tidur di kamar, bahwa
nantinya ia akan diperobatkan di rumah sakit, para
rombongan menunggu dari ruang tamu hendak ingin melihat Marto Buang yang
dirindukan gembira menerima kabar dirinya akan dirujuk kerumah sakit. Namun
tiba-tiba saja Pak sumo berteriak dari dalam kamar anaknya, Martoo, Martoo.
Seketika para
rombongan bapak-ibu menghampiri pak Sumo di kamar anaknya dan innalillah Marto
Buang sudah dipanggil sama pemiliknya.
M. Anis Khoirul Umam
Komentar
Posting Komentar