Langsung ke konten utama

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 1

 

Pada suatu siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir yang berbeda.
cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan kucing.

“dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca..
“aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut.  Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya. Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipiku, berulang-ulang kali hingga aku tersadarkan, bahwa waktu sudah berganti. Tiap kali ia mengeong tanda ia sedang ingin dimanja, kalau ngeongannya ku hiraukan, wajah cemberut mukanya ia tampakkan. Semakin ku diamkan, semakin ia cemberut. Haha..aku tidak bisa menahan geli melihatnya, seketika itupun aku tertawa puas, dan aku kembali memanjanya, dengan menggendongnya, dengan memandikannya, dengan memberi makanannya dan perbuatan manja yang lain.”

aku diam dan bunga melati juga diam, tak bergerak sedikitpun, tetap dengan posisi yang sama tetap setia mendengarkan kisahku. Dan aku pun meneruskan

“Melati,,Kucing itu adalah temanku selebihnya sahabat karibku, aku tidak punya teman, teman-temanku tiada ku kenali sekarang, entah mengapa mereka menjauhiku satu persatu, apakah aku mempunyai kesalahan yang membuat mereka dendam, aku tak tahu itu. dan saat aku merasa hidup itu penuh dengan kekosongan, kucing itu datang, membawa senyuman saat aku menangisi keadaanku ini. Kucing itu sangat berharga bagiku melatii.. dia hidup dan matiku. Dan pasti kau akan bertanya kan dimana kucing itu berada melati?.. ya kan? Kalau aku bisa mendengar kicauan mu melati pasti kau menjawab, benar”.

terik sinar emas matahari sore memandikan bunga melati lewat celah jendela, bunga melati menjadi tambah anggun berwibawa, dengan tiupan angin daun bunga melati bergoyang-goyang.

“aku sedikit sedih melati jika menceritakan pada situasi yang pilu ini, namun kau harus tahu itu, karena tiada lagi yang dapat mendengarkan segala keluh kesah ku setelah kucing kecuali kau.
“pada suatu sore menjelang petang, aku kembali dari sebuah persoalan ke rumah. Kemudian aku pulang membawa sedikit makanan kesukaanku dan  kucing, aku sudah berjanji kepada kucing kalau nanti malam akan makan bersama dan menikmati indahnya langit malam, dan bercerita hingga terlelap tidur”.

air mataku tanpa sengaja mengalir, bunga melati nampak melayukan daun-daunnya. Bunga melati meratapi kisahku.

“melati bersiaplah, kisah pilunya dimulai,,
saat aku membuka pintu, ada sebuah keanehan dirumah, karena pasti dan setiap saat ketika aku kembali ke rumah ngeongan kucing mesti menjadi bel otomatis. Saat itu tidak ada, yang ada hanya suara cekakaan cicak di dinding rumahku. Aku memanggil namanya berulang-ulang kali melati, namun tiada ada jawaban sama sekali, kiraku dia kelelahan saat jalan-jalan tadi pagi kemudian tidur. tapi setelah kulihat tempat tidurnya, tempat tidurnya tak berubahpun sejak tadi kurapikan. Aku mulai panik melati.. seluruh tempat pojok-pojokan rumah aku cari, tapi tiada hasil. Dan kau tau melati, di detik itu juga aku menangis lagi setelah beberapa waktu yang lama, traumaku kembali, sekarang aku merasakan kehilangan semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya, seolah-olah hatiku teriris oleh pisau yang berkarat yang mengiris dengan begitu pelannya. Mataku merah, dengan diam pusat pikiranku kembali kepada yang membuat alam semesta ini, tuhan”.

aku berhenti, cerita terjeda, bunga melati menjatuhkan daun kirinya yang sudah kering, bunga melati turut berbelasungkawa. Dan aku melanjutkan.

“Aku tahu taqdir ini yang membuat tiada lain kecuali tuhan. Dan saat itulah aku marah besar kepada tuhan, sumpah serapah dan caci makianku aku lempar kepada tuhan. Aku menyadari seolah-olah hidupku hanya untuk bersedih dan berkeluh kesah. dan saat itu melatii.. kau percaya atau tidak, aku berani berkata lantang kepada tuhan. “ TUHAN! AKU TANTANG KAU DISINI, KEMARILAH, KAU TELAH MATIKAN SEGALANYA, SEKARANG KUCING, SETELAH INI SIAPALAGI HA?  KARENA AKU SUDAH TIDAK MEMPUNYAI SIAPA-SIAPA LAGI, MAKA CABUTLAH NYAWAKU, KEMBALIKAN AKU PADA MASA-MASA AKU BAHAGIA. AYOH TUHAN! SEKARANG!”

“maaf melati aku bercerita dengan nafas tersengal-senggal karena aku tidak kuat mengingat kenangan pahit itu, aku rindu melati.
“setelah itu ternyata aku tertidur dan bangun ketika malam sudah tiba, ketika sudah sadar, air mataku berlinang tanpa kemauanku, malam itu malam penderitaan, seolah-olah penderitaan neraka di dunia.
aku tidak tahu berbuat apalagi melati, kucing itu adalah teman hidupku satu-satunya. Aku sangat merasakan kesepian dan kehampaan”

“Keesokan harinya, dunia berubah seperti sedia kala, tidak ada senyuman tidak ada tawa, adanya hanyalah kesedihan dan kesuraman. Dan kau tahu melati, aku menjalani hari demi hari dengan tangis. Namun aku ingin kuat, aku ingin menjadi perempuan sejati, dan aku mulai tahu tentang  haqiqat kehidupan. semua yang telah hadir dalam kehidupan pasti akan tergantikan oleh yang lebih baik.”

malam telah terbit di ujung senja, kisah masih berjalan, bunga melati termenung mendengarkan.

“Hari berganti hari, minggu berganti minggu akhirnya aku menemukan kau melati, aku merasa semangat hidupku muncul kembali, semua yang telah ku benci, aku cintai sekaligus ku rindui. dan sebab kau, aku mencoba untuk bersyukur kepada tuhan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik kepada hambanya. Dan yang terakhir kali ini melati”
“aku akan selalu siap, jika kau ingin meninggalkan ku, namun untuk saat ini jangan dulu, aku masih ingin bercerita banyak tentang masa laluku denganmu melati, karena kau sekarang yang menjadi pelipur laraku setiap aku ingin, jadi kumohon tetaplah disisiku”

malam berlalu, ku tinggalkan setangkai bunga melati di meja belajarku semalaman. aku yakin ia kelelahan mendengarkan kisah sedih dan pilu ku berjam-jam. namun apa yang terjadi setelah itu, apa  yang aku khawatirkan pada bunga melati terjadi di pagi hari. Bunga melati layu dan tumbang. Daun-daun kering berjatuhan, duri-durinya tumpul dan batangnya retak. ketahuilah Bunga melati meninggalkanku.
Aku tidak menangis, aku adalah perempuan yang kuat, aku sabar, aku ingat, tidak ada kata perpisahan, namun hanya perjumpa`an yang terjeda. Aku dan melati hanyalah terjeda oleh masa dan pada akhirnya kita akan dipertemukan kembali entah masih berbentuk  setangkai bunga melati atau telah berreinkarnasi wujud lain. Dan kalau telah berubah wujud lain, aku sadar bahwa tuhan akan menggantikan jauh lebih baik darinya.

Dan untuk penutupnya, perkenalkan, perempuan yang bercerita  itu nina` dan bunga melati itu biasa dipanggil dengan sebutan umam.

M. Anis Khoirul Umam

wonosobo, 21 Agustus 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"TO CHANGE OUR HABITS"

         Banyak kebiasaan terbentuk bukan karena kita sengaja memilihnya, tapi karena kita tanpa sadar melakukannya berulang-ulang. Lama kelamaan, kebiasaan itu berjalan dengan sendirinya dengan tanpa sepengetahuan. Itulah sebabnya, mengubah kebiasaan bukan hanya soal keinginan atau niat saja, tapi lebih dari itu. kita harus sadar terlebih dahulu akan kebiasaan itu. Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang bahkan tidak kita sadari ada dalam diri kita.        Jadi, langkah pertama untuk berubah bukan seketika bertindak, tetapi mulai dengan menyadari apa yang selama ini kita lakukan tanpa sadar. Dengan menyadari sesuatu, gerak-gerik kebiasaan tersebut akan segera nampak bagi kita, bahwa yang sedang kita lalui adalah sesuatu ini dan itu.      Ketika kita sudah begitu yakin dan berani merubah kebiasaan maka langkah yang kedua adalah tindakan. Orang biasanya terjebak dalam langkah yang kedua ini. percaya atau tidak, fase ini adala...

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 2

               Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi   penderitaan yang paling besar untukku adalah perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi aku akan kehilanganmu.              Aku tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina, perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pa...