Pada suatu
siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang
cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari
itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin
bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga
seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya
saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga
melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir
yang berbeda.
cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan
kucing.
“dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca..
“aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda
kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut. Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya.
Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipiku,
berulang-ulang kali hingga aku tersadarkan, bahwa waktu sudah berganti. Tiap kali
ia mengeong tanda ia sedang ingin dimanja, kalau ngeongannya ku hiraukan, wajah
cemberut mukanya ia tampakkan. Semakin ku diamkan, semakin ia cemberut.
Haha..aku tidak bisa menahan geli melihatnya, seketika itupun aku tertawa puas,
dan aku kembali memanjanya, dengan menggendongnya, dengan memandikannya, dengan
memberi makanannya dan perbuatan manja yang lain.”
aku diam dan bunga melati juga diam, tak bergerak sedikitpun, tetap dengan
posisi yang sama tetap setia mendengarkan kisahku. Dan aku pun meneruskan
“Melati,,Kucing itu adalah temanku selebihnya sahabat karibku, aku tidak punya teman,
teman-temanku tiada ku kenali sekarang, entah mengapa mereka menjauhiku satu
persatu, apakah aku mempunyai kesalahan yang membuat mereka dendam, aku tak
tahu itu. dan saat aku merasa hidup itu penuh dengan kekosongan, kucing itu
datang, membawa senyuman saat aku menangisi keadaanku ini. Kucing itu sangat
berharga bagiku melatii.. dia hidup dan matiku. Dan pasti kau akan bertanya kan
dimana kucing itu berada melati?.. ya kan? Kalau aku bisa mendengar kicauan mu
melati pasti kau menjawab, benar”.
terik sinar emas matahari sore memandikan bunga melati lewat celah jendela,
bunga melati menjadi tambah anggun berwibawa, dengan tiupan angin daun bunga
melati bergoyang-goyang.
“aku sedikit sedih melati jika menceritakan pada situasi yang pilu ini, namun
kau harus tahu itu, karena tiada lagi yang dapat mendengarkan segala keluh
kesah ku setelah kucing kecuali kau.
“pada suatu sore menjelang petang, aku kembali dari sebuah persoalan ke rumah.
Kemudian aku pulang membawa sedikit makanan kesukaanku dan kucing, aku sudah berjanji kepada kucing
kalau nanti malam akan makan bersama dan menikmati indahnya langit malam, dan
bercerita hingga terlelap tidur”.
air mataku tanpa sengaja mengalir, bunga melati nampak melayukan daun-daunnya.
Bunga melati meratapi kisahku.
“melati bersiaplah, kisah pilunya dimulai,,
saat aku membuka pintu, ada sebuah keanehan dirumah, karena pasti dan setiap
saat ketika aku kembali ke rumah ngeongan kucing mesti menjadi bel otomatis.
Saat itu tidak ada, yang ada hanya suara cekakaan cicak di dinding rumahku. Aku
memanggil namanya berulang-ulang kali melati, namun tiada ada jawaban sama
sekali, kiraku dia kelelahan saat jalan-jalan tadi pagi kemudian tidur. tapi
setelah kulihat tempat tidurnya, tempat tidurnya tak berubahpun sejak tadi
kurapikan. Aku mulai panik melati.. seluruh tempat pojok-pojokan rumah aku cari,
tapi tiada hasil. Dan kau tau melati, di detik itu juga aku menangis lagi
setelah beberapa waktu yang lama, traumaku kembali, sekarang aku merasakan
kehilangan semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya, seolah-olah hatiku teriris
oleh pisau yang berkarat yang mengiris dengan begitu pelannya. Mataku merah,
dengan diam pusat pikiranku kembali kepada yang membuat alam semesta ini, tuhan”.
aku berhenti, cerita terjeda, bunga melati menjatuhkan daun kirinya yang sudah
kering, bunga melati turut berbelasungkawa. Dan aku melanjutkan.
“Aku tahu taqdir ini yang membuat tiada lain kecuali tuhan. Dan saat itulah aku
marah besar kepada tuhan, sumpah serapah dan caci makianku aku lempar kepada
tuhan. Aku menyadari seolah-olah hidupku hanya untuk bersedih dan berkeluh
kesah. dan saat itu melatii.. kau percaya atau tidak, aku berani berkata
lantang kepada tuhan. “ TUHAN! AKU TANTANG KAU DISINI, KEMARILAH, KAU TELAH MATIKAN
SEGALANYA, SEKARANG KUCING, SETELAH INI SIAPALAGI HA? KARENA AKU SUDAH TIDAK MEMPUNYAI SIAPA-SIAPA
LAGI, MAKA CABUTLAH NYAWAKU, KEMBALIKAN AKU PADA MASA-MASA AKU BAHAGIA. AYOH
TUHAN! SEKARANG!”
“maaf melati aku bercerita dengan nafas tersengal-senggal karena aku tidak kuat
mengingat kenangan pahit itu, aku rindu melati.
“setelah itu ternyata aku tertidur dan bangun ketika malam sudah tiba, ketika
sudah sadar, air mataku berlinang tanpa kemauanku, malam itu malam penderitaan,
seolah-olah penderitaan neraka di dunia.
aku tidak tahu berbuat apalagi melati, kucing itu adalah teman hidupku
satu-satunya. Aku sangat merasakan kesepian dan kehampaan”
“Keesokan harinya, dunia berubah seperti sedia kala, tidak ada senyuman tidak
ada tawa, adanya hanyalah kesedihan dan kesuraman. Dan kau tahu melati, aku
menjalani hari demi hari dengan tangis. Namun aku ingin kuat, aku ingin menjadi
perempuan sejati, dan aku mulai tahu tentang
haqiqat kehidupan. semua yang telah hadir dalam kehidupan pasti akan
tergantikan oleh yang lebih baik.”
malam telah terbit di ujung senja, kisah masih berjalan, bunga melati termenung
mendengarkan.
“Hari berganti hari, minggu berganti minggu akhirnya aku menemukan kau melati,
aku merasa semangat hidupku muncul kembali, semua yang telah ku benci, aku
cintai sekaligus ku rindui. dan sebab kau, aku mencoba untuk bersyukur kepada
tuhan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik kepada hambanya. Dan yang terakhir
kali ini melati”
“aku akan selalu siap, jika kau ingin meninggalkan ku, namun untuk saat ini
jangan dulu, aku masih ingin bercerita banyak tentang masa laluku denganmu
melati, karena kau sekarang yang menjadi pelipur laraku setiap aku ingin, jadi
kumohon tetaplah disisiku”
malam berlalu, ku tinggalkan setangkai bunga melati di meja belajarku semalaman.
aku yakin ia kelelahan mendengarkan kisah sedih dan pilu ku berjam-jam. namun
apa yang terjadi setelah itu, apa yang
aku khawatirkan pada bunga melati terjadi di pagi hari. Bunga melati layu dan
tumbang. Daun-daun kering berjatuhan, duri-durinya tumpul dan batangnya retak.
ketahuilah Bunga melati meninggalkanku.
Aku tidak menangis, aku adalah perempuan yang kuat, aku sabar, aku ingat, tidak
ada kata perpisahan, namun hanya perjumpa`an yang terjeda. Aku dan melati
hanyalah terjeda oleh masa dan pada akhirnya kita akan dipertemukan kembali
entah masih berbentuk setangkai bunga
melati atau telah berreinkarnasi wujud lain. Dan kalau telah berubah wujud lain,
aku sadar bahwa tuhan akan menggantikan jauh lebih baik darinya.
Dan untuk penutupnya, perkenalkan, perempuan yang bercerita itu nina` dan bunga melati itu
biasa dipanggil dengan sebutan umam.
M. Anis Khoirul Umam
wonosobo, 21 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar