Langsung ke konten utama

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 2

 

            Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi  penderitaan yang paling besar untukku adalah perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi aku akan kehilanganmu.

            Aku tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina, perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pagi hari. Kisah-kisah yang kau ceritakan sungguh mengobati kenangan pahitku. Dengan itu, aku bisa bangkit untuk hidup dalam dunia ini. Nina, kau tak perlu menangis. Justru yang harus menangis adalah aku, karena tidak ada kebaikan lagi di dunia ini kecuali kebaikan yang ada pada hatimu.


            Dulu Nina, kalau kau tahu, aku adalah benih bunga melati yang tercecer di gurun pasir,  aku tumbuh dengan kesengsaraan, alih-alih ada senyawa makhluq yang mau menolongku, keinginanpun dari mereka tidak ada. Sengatan terik panasnya matahari dan gersangnya gurun pasir begitu membuatku nestapa. Aku selalu mengharapkan air mata tuhan datang menyiramiku. Namun yang namanya penantian tak ada bedanya dengan mencabik-cabik diri sendiri. Secercah harapan untuk hidup sama sekali tak kurasakan ada pada jiwaku. Dan aku tak lain bedanya dengan engkau Nina, setiap detik dan setiap aku ingat, selalu kudengungkan sumpah serapah untuk tuhan.

            Nina, jika dulu aku di tanya sebelum aku terlahirkan dari putikku, maka aku akan menolak untuk hidup di dunia, apa gunanya aku hidup di dunia, hidup di dunia hanyalah merasakan luka dan kepedihan dan itu begitu menyakitkan. Aku menjadi setangkai bunga melati adalah taqdir yang seharusnya terbatalkan. Dan lagi-lagi tuhan menjadi tempat ocehanku.

            Waktu kemarau panjang, aku lalui dengan sisa-sisa kekuatan, daun-daun hijauku mengering lalu jatuh. Warna putih mahkotaku, meredup. Dan aku adalah setangkai bunga melati terburuk yang pernah ada di dunia. Pernah ada keinginan seperti saat kau kehilangan seekor kucingmu yaitu menghabisi nyawaku sendiri. Persetan kata orang bunga melati menjadi simbol bunga keputus asaan. Apalagi setiap aku bangun dari tidur selalu dan selalu aku mengharapkan malaikat izrail yang membangunkanku. Detik-detik sakarotul maut selalu menjadi fatamorgana di pelupuk mataku.

            Nina, yang cantik jelita, yang menjadi malaikat penolong ku. Aku sangat berterimakasih dengan senyuman-senyuman tulusmu. Andai waktu di padang pasir engkau tidak menolongku, maka sampai di akhirat yang kubawa hanyalah perasaan benci dan marah. Setiap hari setiap waktu, aku melihat rasa kesemangatan hidupmu membuncah-buncah, hingga akhirnya, rasa putus asa yang selalu mengurat di nadiku telah hilang tak berbekas. Tanpa pertolongan belaian kasih sayangmu, aku yakin setelah ini pasti aku akan dijatuhkan dalam jurang neraka. Berkat engkau wahai bidadari syurga, nafas kehidupan dapat ku hirup lagi.

            Dalam suratku ini aku ingin engkau melihat untaian-untaian yang kuhaturkan kepada tuhan. Demikianlah untaian ku
            Tuhan, aku tahu. Perasaan benci marah dan kecewa yang aku alami sebenarnya adalah pemicu untuk aku dapat menerima nikmat yang telah engkau berikan. Engkau (tuhan) memberikan ku segenap perasaan itu demi kebaikanku. Maafkan aku tuhan, aku belum bisa menjadi bunga melati yang siang malam berdzikir kepadamu. Di detik-detik akhir ini, biarlah daun layu ku ini menjadi saksi, bahwa Nina, malaikat penolongku, jadikanlah ia sebagai manusia yang bahagia, manusia yang selalu tersenyum, manusia yang selalu memandang keadaannya sebagai nikmat yang telah engkau berikan. Berikanlah apa saja yang menurut engkau baik dan mohon sekali tuhan, janganlah membuatnya menangis dan kecewa lagi. Aku akan selalu mendoakan kebaikannya dari alam sana dan sekali lagi aku mohon kepada engkau untuk selalu mengabulkan segala doa-doaku.
           
            Sebelum nafas terakhir ku hembuskan tuhan, satu permintaan kepadaku untuk kau tuhan, di kala Nina sudah terlelap tidur, aku ingin engkau pertemukan aku dan dia dalam alam mimpi.  Aku akan membacakan satu puisi untuknya.

“kisah-kisah kita adalah kisah tuhan
kita bertemu dan berbahagia adalah kisah tuhan
aku mencintaimu dan kau merindukanku juga masih kisah tuhan
kita berpisah pun kisah tuhan
ingat ! seindah-indahnya kisah adalah kisah tuhan”


M. Anis Khoirul Umam
Salatiga, Jum`at, 19/09/2025 pukul 23: 29 dini hari



           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 1

  Pada suatu siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir yang berbeda. cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan kucing. “dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca.. “aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut.  Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya. Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipi...

"TO CHANGE OUR HABITS"

         Banyak kebiasaan terbentuk bukan karena kita sengaja memilihnya, tapi karena kita tanpa sadar melakukannya berulang-ulang. Lama kelamaan, kebiasaan itu berjalan dengan sendirinya dengan tanpa sepengetahuan. Itulah sebabnya, mengubah kebiasaan bukan hanya soal keinginan atau niat saja, tapi lebih dari itu. kita harus sadar terlebih dahulu akan kebiasaan itu. Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang bahkan tidak kita sadari ada dalam diri kita.        Jadi, langkah pertama untuk berubah bukan seketika bertindak, tetapi mulai dengan menyadari apa yang selama ini kita lakukan tanpa sadar. Dengan menyadari sesuatu, gerak-gerik kebiasaan tersebut akan segera nampak bagi kita, bahwa yang sedang kita lalui adalah sesuatu ini dan itu.      Ketika kita sudah begitu yakin dan berani merubah kebiasaan maka langkah yang kedua adalah tindakan. Orang biasanya terjebak dalam langkah yang kedua ini. percaya atau tidak, fase ini adala...