Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin
bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu
dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga
akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi penderitaan yang paling besar untukku adalah
perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau
kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi
aku akan kehilanganmu.
Aku
tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina,
perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab
apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia
yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air
kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pagi hari. Kisah-kisah yang
kau ceritakan sungguh mengobati kenangan pahitku. Dengan itu, aku bisa bangkit
untuk hidup dalam dunia ini. Nina, kau tak perlu menangis. Justru yang harus
menangis adalah aku, karena tidak ada kebaikan lagi di dunia ini kecuali
kebaikan yang ada pada hatimu.
Dulu Nina, kalau kau tahu, aku adalah
benih bunga melati yang tercecer di gurun pasir, aku tumbuh dengan kesengsaraan, alih-alih ada
senyawa makhluq yang mau menolongku, keinginanpun dari mereka tidak ada. Sengatan
terik panasnya matahari dan gersangnya gurun pasir begitu membuatku nestapa. Aku
selalu mengharapkan air mata tuhan datang menyiramiku. Namun yang namanya
penantian tak ada bedanya dengan mencabik-cabik diri sendiri. Secercah harapan
untuk hidup sama sekali tak kurasakan ada pada jiwaku. Dan aku tak lain bedanya
dengan engkau Nina, setiap detik dan setiap aku ingat, selalu kudengungkan sumpah
serapah untuk tuhan.
Nina,
jika dulu aku di tanya sebelum aku terlahirkan dari putikku, maka aku akan
menolak untuk hidup di dunia, apa gunanya aku hidup di dunia, hidup di dunia
hanyalah merasakan luka dan kepedihan dan itu begitu menyakitkan. Aku menjadi
setangkai bunga melati adalah taqdir yang seharusnya terbatalkan. Dan lagi-lagi
tuhan menjadi tempat ocehanku.
Waktu
kemarau panjang, aku lalui dengan sisa-sisa kekuatan, daun-daun hijauku
mengering lalu jatuh. Warna putih mahkotaku, meredup. Dan aku adalah setangkai
bunga melati terburuk yang pernah ada di dunia. Pernah ada keinginan seperti
saat kau kehilangan seekor kucingmu yaitu menghabisi nyawaku sendiri. Persetan
kata orang bunga melati menjadi simbol bunga keputus asaan. Apalagi setiap aku
bangun dari tidur selalu dan selalu aku mengharapkan malaikat izrail yang membangunkanku.
Detik-detik sakarotul maut selalu menjadi fatamorgana di pelupuk mataku.
Nina, yang cantik jelita, yang
menjadi malaikat penolong ku. Aku sangat berterimakasih dengan
senyuman-senyuman tulusmu. Andai waktu di padang pasir engkau tidak menolongku,
maka sampai di akhirat yang kubawa hanyalah perasaan benci dan marah. Setiap
hari setiap waktu, aku melihat rasa kesemangatan hidupmu membuncah-buncah,
hingga akhirnya, rasa putus asa yang selalu mengurat di nadiku telah hilang tak
berbekas. Tanpa pertolongan belaian kasih sayangmu, aku yakin setelah ini pasti
aku akan dijatuhkan dalam jurang neraka. Berkat engkau wahai bidadari syurga,
nafas kehidupan dapat ku hirup lagi.
Dalam
suratku ini aku ingin engkau melihat untaian-untaian yang kuhaturkan kepada
tuhan. Demikianlah untaian ku
Tuhan,
aku tahu. Perasaan benci marah dan kecewa yang aku alami sebenarnya adalah
pemicu untuk aku dapat menerima nikmat yang telah engkau berikan. Engkau (tuhan)
memberikan ku segenap perasaan itu demi kebaikanku. Maafkan aku tuhan, aku
belum bisa menjadi bunga melati yang siang malam berdzikir kepadamu. Di
detik-detik akhir ini, biarlah daun layu ku ini menjadi saksi, bahwa Nina,
malaikat penolongku, jadikanlah ia sebagai manusia yang bahagia, manusia yang
selalu tersenyum, manusia yang selalu memandang keadaannya sebagai nikmat yang
telah engkau berikan. Berikanlah apa saja yang menurut engkau baik dan mohon
sekali tuhan, janganlah membuatnya menangis dan kecewa lagi. Aku akan selalu
mendoakan kebaikannya dari alam sana dan sekali lagi aku mohon kepada engkau
untuk selalu mengabulkan segala doa-doaku.
Sebelum
nafas terakhir ku hembuskan tuhan, satu permintaan kepadaku untuk kau tuhan, di
kala Nina sudah terlelap tidur, aku ingin engkau pertemukan aku dan dia dalam
alam mimpi. Aku akan membacakan satu
puisi untuknya.
“kisah-kisah kita adalah kisah tuhan
kita bertemu dan berbahagia adalah kisah tuhan
aku mencintaimu dan kau merindukanku juga masih kisah tuhan
kita berpisah pun kisah tuhan
ingat ! seindah-indahnya kisah adalah kisah tuhan”
M. Anis Khoirul Umam
Salatiga, Jum`at, 19/09/2025 pukul 23: 29 dini hari
Komentar
Posting Komentar