Habis shafar
terbitlah maulud
Dimanapun
pesantren itu berada, ketika bulan sudah bertengger di bulan Robi`ul awal (bahasa
jawa: mulud), pondokan-pondokan pesantren tak pernah sepi dan sunyi dari
dengungan untaian-untaian mutiara yang disenandungkan oleh para santri. Ada pesantren
A corak khasnya menggunakan Al-barzanji, pesantren B sudah mentradisikan secara
turun temurun burdah Al-busyhiri, pesantren C melekat sudah dengan Shimtud
duror Al- habsyi, pesantren D tetap teguh mengistiqomahkan Dziba` dan pesantren E mengamalkan diyaul lami` . Mereka-mereka
mempunyai selera tersendiri dan khusus untuk kekasih yang satu yang sama-sama
dipuja.
Bila sudah
terdengar peluit hadroh dibacakan, para peserta penyenandung kian semakin lebih
khusuk, mereka mengirim fatihah-fatihahnya yang timbul murni dari hati
ikhlasnya. Ketika mulai memasuki sajak-sajak awal, mereka diajak sekaligus
dibawa ke zaman orang yang dicintai dan dirindu ﷺ . Mereka mula-mula
terhipnotis lalu tertipu kemudian alam bawah sadar diambil paksa oleh kandungan
makna-makna dari syair-syair tersebut. Dan di detik itu pula mereka MAJNUN
(gila).
Melewati
sajak-sajak berikutnya, sering mereka senyum-senyum sendiri, tegang-tegang
sendiri, semangat-semangat sendiri, nangis-nangis sendiri dan lesu-lesu
sendiri.
“Mamu, Mamu! Kamu kenapa?
Ayo berdiri! Ini sudah mahalul qiyam.” Ajakan dari Sina kepada temannya yang
entah mengapa jongkok sambil mendengklukkan kepala dan menangis.
“Mamu, apa kamu tidak menghormati
jeng Nabi, ha? Ayo berdiri!” bentak Sina.
Beberapa bentar, Mamu dengan sempoyongan berdiri, wajahnya bersimbah air mata, matanya berkaca-kaca dan pucuk hidungnya memerah. Ketika bait awal disenandungkan dengan gaya lagu hijaz.
﴾ أشرق الكون ابتهاجا ֎ بوجود المصطفى احمد ﴿
﴿ ولأهل
الكون أنس ֎ قد سرورقد تجدد ﴾
"Alam bersinar-seminar bersukaria menyambut kelahiran Al-musthofa Ahmad,
riang gembira meliput penghuninya, sambung-menyambung tiada hentinya”
Mamu gember tak karu-karuan, suaranya lebih keras dibandingkan pemahalul qiyam lainnya, padahal ada puluhan pemahalul qiyam shimtud duror. Namun, lambat-laun pemahalul qiyam satu-persatu ikut terseret arus kesedihan dari Mamu, mereka terkapar virus gembernya Mamu, apalagi saat bait ke-9 diteriakkan
بك إنا بك نسعد ﴾ ֎يا رسول الله اهلا ﴿
“Ya Rasulallah, selamat
datang ahlan wa sahlan, sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu”
Seluruh pemahalul
qiyam dower dan gember bareng-bereng, bahkan besertaan para santri penyuguh
makanan dan minuman, santri tikang SON dan bahkan abah sendiri. Mahalul qiyam
terjeda di bait itu hingga dua jam lamanya. Di dua jam tersebut kedoweran dan kegemberan
mereka bersaut-sautan, keras-kerasan dan sedih-sedihan, sampai pada waktunya,
ada santri yang kuat untuk melanjutkan bait ke-10 sampai selesai.
Komentar
Posting Komentar