Langsung ke konten utama

Ijazah Penganteng Ati

            mungkin kegundahan hatiku bisa ku suwunkan obat kepada kang sesepuh pondok. biasanya dan seringnya santri santri menyebutnya dengan nama kang mamam atau dipersingkat menjadi kang Mam. Sudah tersohor bagaimana kejadukan kang Mamam itu hampir menyeimbangi mbah kiai. Kabar-kabar burung sudah pada hinggap di telinga mereka akan kehebatannya. Semua santri menduga-duga bahwa kang Mamam itu sebenarnya adalah wali Allah dan walinya Allah pasti diberi keistemewaan berupa karomah salah satunya yaitu seperti kehebatan kang Mamam yang bisa membaca pikiran orang lain dan ahli di bidang ijazah manapun jenisnya. Itulah mengapa aku ingin sowan kepadanya dan biarlah kang Mamam menjadi tabib hatiku yang risau ini.

 "Woi rud!" panggil kawanku, kang Wo dari samping kamar berlarian menemuiku
 "Opo o kang?" tanyaku. 
 "Kon ape nek kang Mam to?" tanya kang Wo dan pertanyaan ini mengejutkankan ku karena kok kang Wo bisa tahu. 
 "He'e kang" jawabku lirih.
 "Pas Rud, aku tak melu awakmu, kon isoh to?" senyum menyeringai tampak di muka kang Wo yang pastinya mengaharapkanku menjawab iya. 
 "Tapi aku langsung saiki lho kang "jawabku melawan.
 "Iyo ayo aku wes siap ki Rud" kata kang wo tanpa sedikit terlihat ragu dan ia menang.
 "Yoweslah kang, ayok" ajak ku.
    
             Kamar kang Mamam lumayan jauh dari kamarku, kamarnya berada di komplek satu sedangkan aku di komplek dua belas, setidaknya butuh beberapa menit untuk sampai ditujuan. untuk mengisi waktu luang itu, kuberanikan diri bertanya kepada kang Wo, sebenarnya ada apa dengan kang Wo, kang Wo menjawab dengan nada naik pitam,

"Rud Rud awakmu kok yo ogak ngerti to, aku ki wes pirang pirang taun leh nek pondok kene, kaet awal masuk kelas shorof munggah nek alfiyah nunggak setahun munggah nek mu'in nek ihya' awal nek ihya' tsani ples karo ngabdi ku iki limang taun, pengen lek rabi aku Rud".

 "Dadi, singkate sampeyan nyuwun ijazah men entuk jodoh ta kang?" tebakku. Kang Wo tidak langsung menjawab tapi malah melihatku dengan tertawa dan berkata,
"Kok dengaren kon pinter Rud"

            Aku pikir pikir masalahnya kang Wo ini, hampir mirip denganku yaitu soal jodoh, tapi kali ini aku lebih beruntung karena aku sudah mempunyai bayang bayang antara aku dan dia sekaligus orang tuanya. Aku sudah berniat jauh jauh tahun dan sudah mendapatkan izin dari orang tua ku untuk melamarnya selepas mutakhorrijin ini.  Biar aku jelaskan sedikit, kenapa aku bisa mengenal mereka. Perempuan itu anaknya kiai bernama Nurul Nailyllah jelasnya ia adalah neng kebanggaanya abah Kasdu. Beberapa tahun yang lalu aku mendapatkan mandat dari mbah kiai untuk sowan kepada beliau perihal acara akhirussanah bulan depan pada tahun itu. Yang tentunya berkaitan dengan santri pondok Al- jadid, pondoknya mbah kiai dan pondok Husniyah pondoknya abah Kasdu.  Saat aku mengucapkan salam ke ndalemnya tak ada seorangpun yang menjawab salamku. Selisih beberapa menit, ku ulangi lagi salam ku, juga tak kunjung terjawab. Beberapa bentar datang seorang perempuan sedang kesusu memakai kerudungnya sembari menjawab salam untukku. Saat usai sempurna mengenakanya, hati ku berkata ya Allah alangkah indahnya ciptaan panjenengan yang begini rupanya coba ia jadikan. 

 "Wonten napa kang?" tanyanya halus memecah khayalanku. 
 "Ajeng kepados abah mbak" jawabku ndredek. 
 "Oh nggeh kang, mang pinarak riyen, entosi sekedap" ucapnya sambil berbalik arah, mungkin akan manggilin Abahnya pikirku dan itu benar. Suara langkah berat terdengar dari balik tembok melangkah dibantu dengan mbak mbak itu lalu beliau duduk dihadapanku. 
 "Ono opo kang, ameh nakokke anakku iki?" aku terkejut alang kepalang, tak habis pikir abah Kasdu berkata demikian. Aku tak tahu ternyata abah Kasdu masih mempunyai putri yang masih lajang. Apakah karena batinku tadi saat melihatnya dan parahnya lagi abah Kasdu perso? mo ek aku.
 "Mboten bah, kulo diken mbah kiai nangledke panjenengan kagem acara akhirussanah enjang" ucapku hati hati.
 "Oo, utusane mbah kiai, yowes kang. neng kue gelem ta nduk?" abahnya menatap putrinya yang juga kaget karna ucapan beliau.
"Ish abah ki" ucap putrinya mempalingkan wajah.

             kemudian kukatakan apa yang mbah kiai inginkan teruntuk acara akhirussanah itu. Aku tahu abah Kasdu cuma becanda. Itulah sebab awal mengapa aku kenal mereka dan setiap mbah kiai ada urusan dengan abah Kasdu pasti aku yang di sodorkan untuk menemuinya dan tidak akan tidak pertemuan antar aku dengan beliau diawali dengan candaan itu. Karena abah Kasdu mulai menanyakan hal ini dan itu, kedekatanku semakin dekat akhir akhir ini dan aku mempunyai rasa untuk dirinya, neng Nurul. Akan tetapi kabar buruk dari kawanku begitu memakdek kan hati ku di hari hari lusa, ceritanya kawanku begini, nek ngajeng ndaleme bah Kasdu kuwi ono mobil putih avansa, terus seng gadah mobil mau takok karo aku, opo o ndaleme bah Kasdu niku niki. tak jawab nggeh mbah leres.

 "Sinten kang seng nek njero mobil" kataku menyelah.
 "Mbah Ahmad karo guse, tapi Rud, ono tapi ne, beliau karo gowo bingkisan koyo koyo pelamar Rud, matilah kowe Rud Rud" ucap kawanku terbahak bahak.
 "Lha terus piye kang?" serius aku bertanya.
 "Lha mboh ek".

             Sejak saat itulah pikiranku ngalor ngidul, tak berarah ingin ku sowan lagi di ndalemnya abah kasdu tapi sayangnya mbah kiai tak kunjung memerintahkanku.
"Kae kang, kamare kang Mamam" tunjukku di pojok kamar yang diatas pintunya tertuliskan sholawat jibril.
"He'e Rud yok lek ndang mlebu" Lirih kang Wo menjawab. Kita berdua mengucap salam hampir bersamaan. Kang Mamam kedapatan sedang santai santai saja tangan kanannya menjepit seleher rokok yang sudah berkepala merah adapun tangan kirinya memegang cangkir kopi.
"Waalaikumsalam ,ono opo koe loro iki?" santai kang mamam bertanya 
"Anu kang" kataku mengawali.
"Ajeng nyuwun ijazah kanggo ditemukke jodoh kang, kulo lek pengen rabi" blak blakan kang Wo menjawab lalu meliriku sambil tertawa.
"Ingkang kulo nyuwun antenge ati kang" tuturku kang Mamam tak langsung menanggapinya kang Mamam kembali menghisap rokok lalu dipungkasi dengan sruputan kopi, diam sejenak lalu berkata
"Jodoh, jodoh, jodoh, aku wae durung ndwe jodoh kok kowe iki wanimen njuk ijazah jodoh, he?"
 aku terdiam sedangkan kang Wo cengingisan. 
"Yoweslah" lanjut kang Mamam.
"Kowe loro iki moco surat Al-mujadilah ayat siji peng pitung puloh siji kali amben dino bar sholat ashar, khusus koe" kang Mamam menunjukku 
"Ditambah kudu notokke nggon yayake mbah kiai pas ngaji hikam, mudeng kowe loro iki ?" tanya kang Mam. 
 "Khusus kagem kulo kang?" selak kang Wo. 
 "Gak ono" ucap kang Mam sambil kembali asyik dengan kopi dan rokoknya. Kali ini aku yang tertawa kecil meskipun aku tak paham maksud khususiah yang diperintahkan kang Mamam bagiku, sedangkan kang Wo cemberut lemas. Selepas itu ku undurkan kita berdua dan berterimakasih padanya. 

            Ijazah dari kang Mamam selalu ku dzikirkan dan mulazamahkan seusai sholat ashar begitu juga dengan kang Wo, ku lihat kang Wo sehabis sholat ashar masih saja duduk iftirosh dan serius membaca Al-qur'an. Tentu saja ia pasti mengamalkan ijazah yang kita peroleh dari kang Mamam akan tetapi ijazah yang khusus bagiku, mengherankan semua santri, ya semua, tak terkecuali. Semua santri berkata, heh, Rud kuwi kenopo ta, kesambet opo wonge, Kok dengaren rajin men. Ya mungkin karena aku kalau ngaji ke mbah kiai pasti datangnya paling terakhir, paling terakhir. Tapi biar begitu tak mengapa karena mereka tak paham dan hanya ada tiga orang yang tahu dibalik itu semua. Di tengah tengah ngaji hikam oleh mbah kiai, tiba tiba aku teringat abah Kasdu dan juga putrinya neng Nurul, ada kabar burung lain juga mengatakan bahwa keluarga besar dari gus Khoirul, putra dari kiai Ahmad telah datang di salumbari hari di ndalemnya abah Kasdu, kabar itu sungguh mengiris hatiku. Namun tiba tiba mbah kiai menyadarkanku lewat ngaji.

"Wes Rud uwes, ojo di pikirke maneng yo, rungokke aku iki " semua santri tertuju padaku yang terkejut olehnya, tetapi aku hanya diam saja dan berkesimpulan bahwa mbah kiai menjadi orang keempat yang mengetahui rahasia itu. mo ek aku. 
"Rud, delok ta seng bar dimaknani lagi wae, ono wali, ono wali asmane Syeikh Abu Yazid Al-Bushtomi , wali iku iseh dimabuk cinta bahasane jaman saiki, mabuk cinta karo pengeran yoiku gusti Allah. Ora mikirke opo wae liyane gusti Allah, ananging pas lagi mahabbahe pol polan iku, Syeikh Abu Yazid Al- Bushtomi malah diken nglereni mahabahe kaleh gusti Allah lan diken nyerawungi poro menungso . Dumadaan Syeikh Abu Yazid Al-Bushtomi kui mau bengok banter sak banter bantere bengoan, mergo medot pas lagi mahabahe karo pengeran kui perkoro seng paling abot rumangsane. Lha ngono kui mau gusti Allah perso, terus ngakon malaikat Jibril gae nyanjangi Syeikh Abu Yazid Al-Bushtomi dikon mbalek karo pengeran neh disek. Paham gak awakmu Rud" tanya mbah kiai aku hanya menjawab dari kejauhan dengan angguan kepala. Walaupun ngaji hikam telah usai aku masih dibikin bingung apa keterkaitanku dengan cerita tersebut. Tiba-tiba saja saat aku mikir hal itu kang Wo memanggilku.

"Rud kon dipanggil karo mbah kiai, mulakno ndak ngaji ki awakmu ojo ngelamun wae" mosok tenan kang? tanyaku tak percaya.
"Mboh ah kandani kok"
"Yowes kang tersuwun" pikiranku berkecamuk hebat. Ada apa kali ini denganku, apakah aku akan dita'zir atau apakah yang lain. Sabar Rud sabar. Ku tenangkan hatiku sendiri. Setelah tiba di ndalemnya mbah kiai, beliau langsung sanjang.

"Wes pirang taun awakmu nek kene?" kuingat ingat sejenak lalu kujawab dengan takdzim.
"Kinten kinten kaleh welas tahun mbah" aku baru sadar, dibandingkan dengan kang Wo ternyata aku lebih lama darinya karena saat sebelum masuk kelas shorof aku mengabdi dahulu tujuh tahun lamanya. "Wes pirang kataman awakmu ngaji hikam?" tanya mbah kiai lagi.
"Nembe tujuh mbah" jawabku tak paham apa maksud dari pertanyaannya.
"Seng biasane noto panggonanku ngaji, opo o awakmu? tanya mbah kiai menyelidiki
"Nggeh mbah" jawabku jujur.
 "Yowes, yowes, aku nga'i sanad nek awakmu, bar iki, langsung moro nek ndaleme kancaku, Kasdu, dohno sanad seng tak wei nk awakmu" tutur mbah kiai menjelaskan. 
"Nggeh mbah matursuwun sanget, Assalamualaikum" ku cium tangannya mbah kiai lalu mengundurkan diri.

             Setiba di ndalemnya aku dikagetkan dengan abah Kasdu dengan putrinya neng Nurul yang sedang duduk berdampingan di ruang tamu seolah olah sedang menunggu seseorang. Apakah abah Kasdu juga sudah perso? gumamku.  Kuucapkan salam kepada beliau dan mereka berdua menjawab salam ku lalu menyilakanku duduk.
"Ono opo kang Rud? ameh nakokke anakku iki?" seperti biasanya, kalimat itu adalah kalimat wajib abah Kasdu jika mengawali perbincangan. Sedikit ku tersenyum dan berkata juga seperti biasanya "Mboten bah, niki kulo diken mbah kiai kagem ningalno panjenengan sanad hikam engkang kulo trimo nembe wau, nanging kulo mboten ngertos keranten" 

 "Alhamdulillah, alhamdulillah" puji abah Kasdu berulang-ulang memotong kalimatku.
 "Wes tak enteni suwe ki mbah mbah".
aku tak paham apa maksud perkataan beliau, tapi perkataan selanjutnya, 
 "Yowes sesuk bapak karo ibu mu, bel kon moro rene, tak lamarno karo anaku iki Nurul, terus ijab qobule sok wae nek kue wes mutakhorrijin".

 seketika dadaku seperti ingin terbang setinggi tinginya aku tak percaya apa yang barusan abah kasdu katakan,aku teringat kabar dari kawanku tentang gus khoirul itu, apakah gus khoirul telah ditolak lamaranya oleh abah kasdu,hanya karena untuk menungguku membawakan sanad hikam, atau,ah sudahlah.dan tentunya terimakasihku teruntuk kang mamam tak terhingga. ku lirik neng nurul hanya diam saja dan senyum senyum sendiri . beribu ribu terimakasih juga ku haturkan dan kemudian kuucapkan salam kepada abah kasdu dan tentunya juga kepada neng nurul. setiba di pondok kang wo bertanya, 

"Diken lapo kon Rud kaleh mbah?"
 "Ojo kondo sopo sopo yo kang, aku dilamarno abah Kasdu kiyambak kaleh putrine neng Nurul."
 ucapku pelan, sangat pelan sekali. 
 "Seng tenan a kon Rud " kang Wo kaget sejadi jadinya.
 "Mboh ah kandani kok" jawabku tertawa girang.
 "Lha aku kapan he, aku yo wes ngamalno ijazahe kang Mam amben dino lho, rak pernah prei, rud saiki kudu ora kudu aku seng notokno pangginan yayake mbah ndak ajeng ngaji hikam, wes pokokke aku". 

        kutinggal kang Wo yang marah marah sendiri sambil berkata di kejauhan
"Sabar kang sabar, iki wes teqdire pengeran mbalekke mahabahku nek neng Nurul, seng sabar yo kang".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 1

  Pada suatu siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir yang berbeda. cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan kucing. “dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca.. “aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut.  Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya. Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipi...

"TO CHANGE OUR HABITS"

         Banyak kebiasaan terbentuk bukan karena kita sengaja memilihnya, tapi karena kita tanpa sadar melakukannya berulang-ulang. Lama kelamaan, kebiasaan itu berjalan dengan sendirinya dengan tanpa sepengetahuan. Itulah sebabnya, mengubah kebiasaan bukan hanya soal keinginan atau niat saja, tapi lebih dari itu. kita harus sadar terlebih dahulu akan kebiasaan itu. Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang bahkan tidak kita sadari ada dalam diri kita.        Jadi, langkah pertama untuk berubah bukan seketika bertindak, tetapi mulai dengan menyadari apa yang selama ini kita lakukan tanpa sadar. Dengan menyadari sesuatu, gerak-gerik kebiasaan tersebut akan segera nampak bagi kita, bahwa yang sedang kita lalui adalah sesuatu ini dan itu.      Ketika kita sudah begitu yakin dan berani merubah kebiasaan maka langkah yang kedua adalah tindakan. Orang biasanya terjebak dalam langkah yang kedua ini. percaya atau tidak, fase ini adala...

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 2

               Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi   penderitaan yang paling besar untukku adalah perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi aku akan kehilanganmu.              Aku tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina, perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pa...