Langsung ke konten utama

Kenapa Dan Ada Apa Dengan Gudi`

  

Kenapa Dan Ada Apa Dengan Gudi`

 

                Fenomena satu-satunya yang belum pernah diteliti serius bagi seorang peneliti adalah soal gudi` ken nya anak pesantren bukan soal gudi` ken nya anak di luar pesantren. Mengapa demikian?. Karena anak pesantren terjangkit gudi`- saya tidak berani mengatakan ini (gudi`) sebuah penyakit- motivnya bermacam-macam, diantara lain:

1.       Memang secara keilmuan kedokteran, gudi` ken disebabkan ketidak kebersihannya pribadi seseorang dalam hal kebersihan. Misalnya, Man yalek tidak akan mandi kecuali ketika ia akan melaksanakan sholat Jum`at saja. Lebih parahnya lagi. Selagi ia tidak junub, ia enggan untuk mandi. Karena ia beragumen, bahwa mandi sebelum melaksanakan sholat Jum`at hukumnya hanya sebatas sunnah belum mencapai hukum wajib. Dan masih segobrak alasan lain yang dapat dipandang dari segi keilmuan kedokteran.

2.       Memang secara perspektif ke-uluhian (ketuhanan), gudi` ken adalah bentuk cobaan dari sang rabb (tuhan) bagi abd nya (hamba) untuk memastikan, apakah memang benar hambaku ini mencari ilmu atas dasar mencari ridhoku. Kalau toh memang benar. Coba nikmatilah gudi` ini. Pokok kesimpulannya dalam teori ini, kesabaran dan ketakwaan anak pesantren akan diuji. Sanggup ataukah tidak?.

3.       Memang secara gugon tuhon (kabar burung) masyarakat luas, gudi` ken merupakan sebuah hukum penetapan nasib bagi anak pesantren yang akan kerasan (betah) di pesantren. Teori ini, teori yang masyhur yang banyak dianut oleh orang tua dari anaknya di pesantren. Kesimpulan dari teori ketiga ini, bahwa santri yang belum pernah mengalami gudi` ken belum dapat dikatakan sebagai santri sejati. Karena terdapat sebuah maqolah yang mengatakan “Di situ ada santri di situ ada gudi`”.

 

Semua persoalan ini, saya serahkan dan pasrahkan bagi pembaca yang budiman. Mau percaya teori ke satu dua atau tiga, silahkan. Teori-teori tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Percayalah!.

 
M. Anis Khoirul Umam
Wonosobo, 11 Sep 24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 1

  Pada suatu siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir yang berbeda. cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan kucing. “dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca.. “aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut.  Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya. Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipi...

"TO CHANGE OUR HABITS"

         Banyak kebiasaan terbentuk bukan karena kita sengaja memilihnya, tapi karena kita tanpa sadar melakukannya berulang-ulang. Lama kelamaan, kebiasaan itu berjalan dengan sendirinya dengan tanpa sepengetahuan. Itulah sebabnya, mengubah kebiasaan bukan hanya soal keinginan atau niat saja, tapi lebih dari itu. kita harus sadar terlebih dahulu akan kebiasaan itu. Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang bahkan tidak kita sadari ada dalam diri kita.        Jadi, langkah pertama untuk berubah bukan seketika bertindak, tetapi mulai dengan menyadari apa yang selama ini kita lakukan tanpa sadar. Dengan menyadari sesuatu, gerak-gerik kebiasaan tersebut akan segera nampak bagi kita, bahwa yang sedang kita lalui adalah sesuatu ini dan itu.      Ketika kita sudah begitu yakin dan berani merubah kebiasaan maka langkah yang kedua adalah tindakan. Orang biasanya terjebak dalam langkah yang kedua ini. percaya atau tidak, fase ini adala...

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 2

               Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi   penderitaan yang paling besar untukku adalah perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi aku akan kehilanganmu.              Aku tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina, perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pa...