MENCINTAI YANG ABADI ITU PINTAR
Sudahkah atau belumkah anda merasakan cinta pertama? Jika belum bersiaplah. Jika sudah bagaimana sekarang? Apakah masih tetap atau tergoyahkan oleh yang lain?
Kata
cinta memang selalu dikaitkan ke hati lalu dari hati mengalir buih-buih rasa,
entah bahagia, sedih, kecewa, bangga dsb. Saya visualisasikan ke sebuah bentuk
cerita, sebut saja Man yalek, dia orang yang sedikit bisa dikatakaan orang
alim. Man yalek saat ini sedang menjaga dan sembari mencari tempat bersemayam
hatinya. Singkat cerita, akhirnya dia terdampat pada satu gadis. Beh. Gadis itu
tak ada kata-kata yang paling indah untuk menggambarkannya. Man yalek mencurahkan ke hubb-annya kepada gadis laksana
air terjun menjatuhkan airnya ke muara sungai, mendrojoki terus
temerus. Ia tak pernah terjeda melontarkan
puisi-puisi rindu kepada gadis itu.
Entah sebab alam menyutujuinya atau tidak. Tiba-tiba si gadis hilang begitu saja tak ada rimbanya. Rasa-rasa yang Man yalek rasakan saat itu, seketika runtuh, jatuh dan pecah berkeping-keping.
Ibroh
yang dapat anda cuil dari pengalaman cinta Man yalek ialah mencintai
lebih-lebih yang sudah dimaklumi akan ke fana-annya hanyalah akan menyakiti
diri sendiri.
Jadi,
siapakah yang harus kita cintai dan itu pun juga abadi? Allah, ia maha kekal
dan abadi. Tak ada senyawapun yang bisa menyamainya. Ia tak akan pernah
didatangi oleh ke fana-an. Maka sebab itu sudikah kita mencintainya? Kan pasti
mendapatkan bahagia yang tak pernah tiada. Akhirnya toh Allah juga bakal
mencintai mahkluqnya jika ia dicintai. Apakah selain dirinya (Allah) cintanya seseorang
akan dibalas? Belum tentu.
M. Anis Khoirul Umam
Komentar
Posting Komentar