Langsung ke konten utama

MENCINTAI YANG ABADI ITU PINTAR

 

MENCINTAI YANG ABADI ITU PINTAR

            Sudahkah atau belumkah anda merasakan cinta pertama? Jika belum bersiaplah. Jika sudah bagaimana sekarang? Apakah masih tetap atau tergoyahkan oleh yang lain?

            Kata cinta memang selalu dikaitkan ke hati lalu dari hati mengalir buih-buih rasa, entah bahagia, sedih, kecewa, bangga dsb. Saya visualisasikan ke sebuah bentuk cerita, sebut saja Man yalek, dia orang yang sedikit bisa dikatakaan orang alim. Man yalek saat ini sedang menjaga dan sembari mencari tempat bersemayam hatinya. Singkat cerita, akhirnya dia terdampat pada satu gadis. Beh. Gadis itu tak ada kata-kata yang paling indah untuk menggambarkannya. Man yalek  mencurahkan ke hubb-annya kepada gadis laksana air terjun menjatuhkan airnya ke muara sungai, mendrojoki terus temerus.  Ia tak pernah terjeda melontarkan puisi-puisi rindu kepada gadis itu.

        Entah sebab alam menyutujuinya atau tidak. Tiba-tiba si gadis hilang begitu saja tak ada rimbanya. Rasa-rasa yang Man yalek rasakan saat itu, seketika runtuh, jatuh dan pecah berkeping-keping.

  Ibroh yang dapat anda cuil dari pengalaman cinta Man yalek ialah mencintai lebih-lebih yang sudah dimaklumi akan ke fana-annya hanyalah akan menyakiti diri sendiri.

            Jadi, siapakah yang harus kita cintai dan itu pun juga abadi? Allah, ia maha kekal dan abadi. Tak ada senyawapun yang bisa menyamainya. Ia tak akan pernah didatangi oleh ke fana-an. Maka sebab itu sudikah kita mencintainya? Kan pasti mendapatkan bahagia yang tak pernah tiada. Akhirnya toh Allah juga bakal mencintai mahkluqnya jika ia dicintai. Apakah selain dirinya (Allah) cintanya seseorang akan dibalas? Belum tentu.


M. Anis Khoirul Umam 
Kajen 11 feb 21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 1

  Pada suatu siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir yang berbeda. cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan kucing. “dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca.. “aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut.  Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya. Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipi...

"TO CHANGE OUR HABITS"

         Banyak kebiasaan terbentuk bukan karena kita sengaja memilihnya, tapi karena kita tanpa sadar melakukannya berulang-ulang. Lama kelamaan, kebiasaan itu berjalan dengan sendirinya dengan tanpa sepengetahuan. Itulah sebabnya, mengubah kebiasaan bukan hanya soal keinginan atau niat saja, tapi lebih dari itu. kita harus sadar terlebih dahulu akan kebiasaan itu. Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang bahkan tidak kita sadari ada dalam diri kita.        Jadi, langkah pertama untuk berubah bukan seketika bertindak, tetapi mulai dengan menyadari apa yang selama ini kita lakukan tanpa sadar. Dengan menyadari sesuatu, gerak-gerik kebiasaan tersebut akan segera nampak bagi kita, bahwa yang sedang kita lalui adalah sesuatu ini dan itu.      Ketika kita sudah begitu yakin dan berani merubah kebiasaan maka langkah yang kedua adalah tindakan. Orang biasanya terjebak dalam langkah yang kedua ini. percaya atau tidak, fase ini adala...

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 2

               Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi   penderitaan yang paling besar untukku adalah perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi aku akan kehilanganmu.              Aku tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina, perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pa...