"Pim pim pim !! "
Semua serentak mengacungkan tangannya masing masing, tangan tangan berbaris, berdiri tegak setegak pasukan Turki Ottoman yang bersiap melawan kekaisaran Romawi timur merebutkan tahta Konstantinopel.
forum ini dinaungi sebuah hukum, hukum yang mengikuti pepatah barang siapa yang cepat tidak lain pasti dia dapat, namun kali ini tak bisa didapatkan siapa siapa. karna setelah sangkakala diraungkan, semua telah finish di waktu yang sama.
lantas, siapakah yang menjadi pemenang,yang merebutkan mahkota berisi pertanyaan terakhir itu?
"Heh, opo kalian iki ogak ewoh, samping kelas iki ruang masyayikh."
Yang sebelumnya ribut, bak sumpah serapah dan cemooh-an para kaula kepada rajanya yang bengis, ini waktu, lenggang, sunyi, seperti medan perang yang baru saja telah dibumi hanguskan oleh sang kuat, lalu dengan gigi berseri seri pulang meninggalkan sisa lautan darah dan gunung bangkai dari sang lemah. Para musyawwirin telah terasuki pikirannya, sehingga tak bisa mengendalikan hasratnya untuk tidak bertanya dan sampai sampainya melupakan, bahwa samping ruang kelas, ruang masayikh.
Semuanya menyetujui dalam diamnya, tak ada celotehan sepeluru keluar dari senapan mulut mereka membalas perkataan mu'in Salatiga, memang harus begitu adanya karena yang namanya santri pasti mereka menjunjung tinggi tata krama, dan mengaplikasikannya dengan adab karna adab di atas ilmu. Bukan sebaliknya. Ilmu di atas adab.
Dengan begitu, mu'in Salatiga, (aku namai di cerita ini dengan nama si cerdik , kenapa bisa begitu? nanti bakal tau sendiri) kembali duduk dan berkata lirih memecah keheningan.
"Pim, opo hukume banyu seng di panaske srengenge?"
Mula mulanya itu pertanyaan oleh musyawwirin di seribu diamkan, pertanyaan berharga sekaligus terakhir ini di isi dengan, ah pertanyaan sekelas taqrib. mereka acuh tak acuh sebab itu. ini kelas mu'in kang bukan taqrib. Membosankan, ceh.
Tiada cara lain lagi selain moderator turun tangan untuk mengulangi pertanyaan tadi.tapi...
"Tak ulangi lagi, apa hukum e air yang musyammash?"
Bagaimana? merespon kah mereka? sama sekali tak. respon pertanyaan ulangan dengan yang pertama tak ada bedanya, semua musyawwirin tak mengindahkanya, menoleh pun mereka segan, mungkin mereka menganggapnya seperti ono suoro tanpo rupo.
Selanjutnya mereka diam, diam dan tetap juga diam.
Beberapa jenak yang sudah, kunjung juga akhirnya yang di harap harap , musyawwir depan mengangkat tangannya sesiku, menjawab dengan malas malas, entah karena terpaksa atau lainnya. Aku tak tahu pun.
"Monggo"
"Makruh mungguhe imam Rofi'i, ndak makruh mungguhe imam Nawawi"
Begitu singkat padat dan jelas, jawaban itu dari mu'in Wonosobo, mu'in Wonosobo itu, tahukah siapa?
ia satu toktilnya santri yang jika ikut musyawwarah tak akan mungkin ada lawanya, maksudnya tidak pernah ada yang berani mendebat di depan mukanya.
jadi apakah di paragraf ini akan berakhir? belum, jangan terlalu terburu buru, ini baru saja dimulai, sabar, tengok lah akan bagaimana kelanjutanya.
Tanpa menunggu beduk di talu talu, moderator langsung melakukan tata aturan bermusyawaroh yang sebagaimana sudah berlaku, apabila ada jawaban baru dari musyawwir maka moderator wajib mengulangi jawaban musawwir tersebut.
"Saya ulangi lagi, jawaban dari muin Wonosobo, hukum air itu makruh menurut imam Rofi'i,ndak makruh menurut imam Nawawi ada yang berkeinginan menyangkal?"
Kiraku, pasti tak mungkin ada penyangkal, tapi, begitu sangat buruk tebakanku. kali pertama ini, mu'in Wonosobo ada lawan.
Acungan tangan terlihat menjedol ke atas dari sisi kanan. diketahui ia mu'in Pati, ini santri tak sembarangan santri, tiga tahun berturut -turut, juara satu perlombaan MQK se-jawa dan madura selalu ia berondong dan kemudian meninggalkan lawannya dengan penuh gigilan .
Pertanyaannya, kenapa ia ingin menyangkalnya, padahal jawaban dari muin Wonosobo tadi sudah jelas sejelas-jelasnya? kenapa?.
"Silahkan"
"Maaf, saya hanya bertanya pim, bukan menyangkal boleh kan?
ilat nya apa, argumentasinya mana?"
Sejak jawaban dari musyawwir mu'in Wonosobo tadi akan disangkal oleh mu'in Pati, dilihat dari raut muka mu'in Wonosobo, ia tak cukup Tenang, grusa grusu. Mencoba berpikir, berpikir, sekali lagi berpikir. Sangkalan bentuk apa yang kira kira akan menyemprotku, oke, sangkalannya, jangan sampai aku ndak bisa mengatasinya, pasti untuk diriku itu amat memalukan. Jebul e bukan sangkalan hanya pertanyaan tambahan, boleh lah.
"Begini kang keterangan ilat makruh e diambil dari hadist Rasulullah saw yang melarang saidah Aisyah untuk tidak wudhu dengan air musyammash, innahu yurisul al barosh. mungkin kang bisa lihat sendiri di kitab kifayatul akhyar"
Terludeskan kedua dua pertanyaan mu'in Pati oleh jawaban mu'in Wonosobo lancar dan menggembirakan. Malu tak jadi padanya, ia merasa, dirinya telah memenangkan pertarungan satu lawan satu ini tanpa sedikitpun lawan bisa menyentuh tubuhnya. Sedikitpun.
Kemudian moderator mengambil alih dan mengulangi jawaban yang sudah lewat tadi.
Mui'n Pati tak berkutik apa apa, alias tak mempunyai sesuatu lagi untuk menyangkalnya, setelah ia membuka kitab kifayatul akhyar dan itu ada. Mu'in Pati menyerah. mengangkat kedua tangan dan meninggalkan medan perang. Menurutku boleh juga muin Wonosobo ini.
Di kemudian waktu, forum musyawwaroh itu terdengar merayap sepi, biarpun kiranya akan begitu, si cerdik tak akan membiarkan hal itu terjadi, memang sengaja ia membuat ranjau pertanyaan semudah yang paling mudah, tapi dengan itu ia yakin forum musyawaroh ini bisa terus hidup, yang ia cita citakan adalah itu, lain tidak.
"Pim!!, apakah ilat itu benar, sehingga bisa menjadikan air itu makruh. secara ilmiah atau ilmu kedokteran apakah ilat itu bisa dibenarkan?"
Si cerdik menambahi lagi dengan ranjau pertanyaan, kali ini lumayan bebobot, tajam, bergerigi dan menakutkan.
Moderator menyimak apa yang keluar dari senapan si cerdik untuk dapat mengulangi lagi di hadapan publik. Namun siapa sangka dan siapa tahu, tiba tiba mu'in Wonosobo telah menangkisnya tanpa seizin moderator.
"kang, iku hadist kang, pengendikane nabi, opo o kang ogak percoyo,lalu opo maksude sifat sidiq bagi nabi?"
Praduga ku salah lagi, mu'in Wonosobo telah dibabat direbut hak kuasa oleh pertanyaan si cerdik dengan kecerdikannya, memancing otak bawah sadarnya meronta-ronta.
Para musyawwirin terhelak kaget melihat mu'in Wonosobo, menyalahi aturan, berkata lancang, juga membawakan jawaban dengan marah. kenapa ia? apakah ia dipermalukan? kan tidak. Si cerdik tersenyum mu'in Wonosobo sudah terkena perangkap, lanjutnya ia menghirup napas perlahan lahan sebelum ingin mendamprat jawabanya lalu berdiri, menolehkan kepala, menyorot kedua mata lawannya langsung, ia tampak berwibawa, sedang lawannya terlihat menciut.
"Tidak masalah percaya atau tidaknya, semua orang sudah pasti tau, sidiq bagi nabi tak ada yang bisa menyangkal. Tapi semua ilmu itu harus ada konskuensi secara ilmiah dan juga. ...
"kang!! (santri yang duduk di bangku tengah secara tiba tiba berbicara, menengahi jawaban si cerdik dan kali ini mungkin sampai seterusnya moderator tak di anggap keberadaannya) pertanyaan e muin wonosobo menurutku banget keliru, ono seng jenenge ilmu mushtolah hadist, opo kang mu'in Wonosobo sudah kenalan itu? wes tau sinau iku?
Jadi hadist saidah Aisyah iku kepiye, sohih atau dhoif atau yang lain, sehingga bisa dijadikan sebuah dalil?"
Bagai tertebas pedang berkali kali, mu'in Wonosobo telah dihadapkan dengan pertanyaan landep mu'in Jombang.
musyawirin sependapat dengannya menjawabi mu'in Wonosobo yang mulai membesarkan diri dengan perkataan itu dan mereka pun mengangguk-angguk menyutujui, rela tombak jawaban itu telah dilontarkan ke muka nya, tanpa ampun.
Dengan itu, kabar baik datang, si cerdik telah mendapatkan kawan nya. Dan kabar buruknya, mu'in Wonosobo, rekor tak ada lawannya hangus ini waktu.
Musim angin berganti ke musim panas mu'in Wonosobo tak kunjung ada jawaban, dilihatnya ia sedang membuka beberapa kitab kuning yang bertumpuk tumpuk disampingnya.lain dari itu ia mencoba bertanya tanya dengan temannya yang semuin Wonosobo tapi tetap saja tak membuahkan hasil.
kursi tahta mau tak mau menjadi kosong setelah tewasnya jawaban mu'in Wonosobo. Sekarang giliran si cerdik untuk menggantikan.....
"saya jawab, memang ilmu kedokteran telah meriset eksperimen ini tapi tak juga benar, argumennya bisa dilihat di nihayatul minhaj, sedangkan kang mu'in Jombang! memang hadist saidah Aisyhah menurut ittifaqul muhaddisiin, hadist itu dhoif pun ada juga yang mengatakan maudu'.
Kang mu'in Jombang pasti sudah di luar kepala bukan apa maqsud dhoif apa itu maudu'?
oh ya, kalau diperlukan. itu semua ada di majmu' syarah al muhadzab. Dibenarkan secara kedokteran?
saya jawab, memang ilmu kedokteran telah meriset eksperimen ini tapi tak juga benar, argumennya bisa dilihat di nihayatul minhaj.
sedangkan kang mu'in Jombang! memang hadist saidah Aisyhah menurut ittifaqul muhaddisiin, hadist itu dhoif pun ada juga yang mengatakan maudu'.
Kang mu'in Jombang pasti sudah di luar kepala bukan apa maqsud dhoif apa itu maudu' ?
oh ya, kalau diperlukan. itu semua ada di majmu' syarah al muhadzab".
Siapa yang menjawabnya? dia itu siapa?
nyata nyatanya ia sekutu mu'in Wonosobo, turun ke medan perang, untuk mengulurkan tangan pertolongan.
Seluruh musyawwirin tanpa terkecuali si cerdik sendiri dan mu'in Jombang, terlongok longok melihat orang yang mampu menjawab pertanyaan si cerdik tanpa sehuruf pun keliru.
di luar nalar pikir, santri yang tak pernah mengangkat senjata di forum musyawaroh, kali pertama ini ia tidak hanya mengangkat senjata tapi dapat membentengi pasukan pasukan sekaligus mengobrak abrik musuhnya. ia mu'in Banjar Kalimantan, orang mengatakan demikian.
Mu'in Wonosobo terkekeh-kekeh melihat si cerdik kewalahan menghadapi serangan kejutan mu'in Banjar.
Si cerdik menoleh ke kawan nya, mu'in Jombang. Terlihat mereka sedang bediskusi diam diam untuk bagaimana cara memukul mundur sekutu mu'in Wonosobo yang menjadi pahlawan baginya.
Sampai disini aku tak berani menebak siapa yang akan menang dan yang kalah.
Akan tetapi harapan menang untuk si cerdik dan mu'in Jombang terlihat saat keduanya berjabat tangan dan tersenyum sesimpul diwajah mereka, selanjutnya tanpa menunggu ampunan dari si korban, si cerdik memenggal persoalan mu'in Banjar cepat, tanpa sedikitpun ragu-ragu. cas ces cas ces.
"Begini kang ! karena imam Rofi'i mengikuti imam Syafi'i dan imam Syafi'i pun mengatakan begitu, alasanya cukup mudah ia adalah seorang mujtahid mutlaq selain terkenal ahli ushul kan pasti ahli di bidang ilmu lain tak terkecuali apa yang disinggung kang mu'in Jombang tadi yaitu ilmu hadist atau mushtolah hadist, dari bekal itu imam Syafi'i menganggap hadist dari saidah Aisyah itu tsiqqoh, dapat di jadikan dalil.
kan ikhtilaful ulama rohmah? kan aku tak salah kang mu'in Jombang?"
"sedikitpun"
Mendengarnya, mu'in Banjar tunggang langgang berlari bersembunyi di balik seluk bekar, diam, tak sedikit pun serangan balasan ia lakukan. para penonton tertawa mengejek. prajurit ini masih amatiran, bagaimana lagi. nasib sudah seperti sekutunya.
Malam semakin pukat entah berapa windu atau malah abad mereka bertumpah darah hanya untuk bisa merebutkan mahkota satu yaitu jawaban yang paling benar.
yang menyedihkan lagi moderator tak bisa mengatasi para musyawwirin, duduklah dia ditempatnya menunggu sangat harap forum musyawwaroh ini seketika menjadi bisu.
Memang, kali ini tak ada sepasukan-dua berani menantang pasukan si cerdik, para penonton pun ada yang mendukung si cerdik pun ada yang muin wonosobo. dengan itu, terbagilah mereka menjadi dua kelompok. Seperti yang aku anologikan di awal paragraf kelompok Turki Ottoman ialah sultan Mehmed ll dan kelompok Romawi timur ialah yang dipertuan raja Romawi.
seperti kata sejarah, Romawi timur tumbang, kekuasaan kekaisaran Romawi jatuh di tangan sultan Mehmed ll. Sultan Mehmed ll disepertikan si cerdik dan mu'in Wonosobo menyeperti yang dipertuan raja Romawi timur.
Kali ini sudah tak ada suara gemricing senjata, suara tebasan, ataupun tombakan para pasukan. mereka sudah lelah mungkin, atau tak kuasa melawan sultan Mehmed ll Salatiga, namun tiada angin tiada guntur, tiba tiba moderator bangkit dari alam kuburnya, sekarang ia memegang kembali kekuasaan musyawwaroh, tak ada yang berani melawannya, toh pemimpin sebenarnya di forum musyawwaroh ini adalah ia.
"Sudah cukup semua!, mu'in Salatiga! dari pertanyaan pertama, apakah sudah dipuaskan dengan jawaban jawaban tadi?"
"Belum pim"
Tidak bisa di hindari, moderator naik pitam kesemua mua musyawwirin, tertentu kepada si cerdik. Sudah pasti, tidak perlu kemungkinan, ia marah karna ia telah diabaikan di forum ini, apalagi ia selaku pemimpinnya.
Beberapa jenak setelah naik darahnya, terdapat kang kang yang baru tengah sadar dari tidurnya tiba tiba menjawab.
"Pim! jawaban dari pertanyaan mu'in Salatiga, mubah hukumnya pim"
Semua mata tertuju di kang kang yang di pipinya masih ada ukiran ukiran terbuat dari iler, songkok yang dikenakannya mlenyot kanan kiri, matanya kriyap kriyep, rambut gondrongnya acak acakan.
apalagi saat ia menambahi lagi
"bener kan pim?" benerkan semuanya? hehe"
"Puas pim, saya puas dengan jawabannya....
siapa namanya?
tumok? tumok kan?".
Si cerdik begitu bahagianya lalu berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju bangku pojok pol belakang, di bangku kang kang itu berada dan mengulurkan tangannya serta mengucapkan terimakasih. karna hanya dia yang bisa menjawab teka-tekinya.
Pertanyaan demi pertanyaan timbul di dalam benak para musyawwirin akan tingkah si cerdik tersebut. Kenapa bisa? bagaimana bisa?
Sejurus kemudian mu'in Jombang berkata
"he'e, saya setuju, saya setuju, kita memang sudah merasa pintar sendiri, kita salah memahami pertanyaan awal dari mu'in Salatiga, ingat kah kita pertanyaan awalnya?
opo hukume air seng dipanaske srengenge,
lah itu, mu'in Salatiga di situ tidak mengasih keterangan bahwa air tersebut di gunakan untuk thoharoh, jadi kalau tidak untuk thoharoh pasti mubah hukumnya."
Para musyawwirin berpandangan kosong-melompong, mereka baru sadar atas kesemua itu, semua musyawwirin menatapkan matanya kepada kang kang itu dengan tatapan mata kagum tiada kira.
Ada pepatah jangan melihat orang dari segi dhohirnya saja tapi bathin juga harus dilihat. Pepatah ini tepat untuknya. Seseorang di kelas berkata demikian.
Kang kang itu langsung di jadikan seorang raja di raja yang berkuasa dengan cara yang agung. Melebihi raja sultan Mehmed ll Salatiga. Ia menjadi raja tanpa mengalahkan siapa pun, tanpa membutuhkan darah berceceran, tanpa pekikan pasukan kesakitan, tanpa nyawa nyawa tumbang tanpa ada kesedihan dan tanpa ada air mata yang mengalir. Semua dilakukan dengan penuh senyuman dan kegembiraan. Hidup raja agung ini! hidup!
Kang kang itu keheran heranan kesemua mua musyawwir, ya benar, ia akan mati keheranan. pasti.
"Kenapa mereka menatapkan matanya padaku begitu halus dan indah penuh dengan decak kekaguman ? apakah karena aku bisa menjawab pertanyaan mu'in Salatiga itu?
kan pertanyaannya amat mudah, malah pertanyaan sekelas taqrib kiraku. Aku yakin, seratus persen. Orang yang lebih bodoh dari ku saja, mesti bisa menjawabnya tanpa kesusahan sedikitpun. Tapi? sebab kenapa? dan apa?"
Kang kang itu tetap bertanya tanya sedang para musyawwirin tetap juga memuji mujinya.
mydour 2022
Komentar
Posting Komentar