Perjalanan yang
melelahkan ini sudah lama aku harap-harapkan, kira-kira sudah wujud semenjak
kaisaran dua puluh tahun yang lalu. Akhirnya,
berkat kebaikan tuhan, ini hari, aku sedang menempuhnya. Sore kemarin, aku
sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta, kota yang ditumbuhi gedung-gedung tinggi,
saking teramat banyaknya yang hijau-hijau satu pun tak nampak olehku. Menurut
buku yang ku baca, kota ini puluhan tahun silam menjadi kota perjuangan,
memperjuangkan hak hidupnya atas imprialisme tidak lain dari bangsaku sendiri.
Aku pribadi sungguh meminta maaf atas kejadian memilukan itu. Yang ku ketahui
lagi tentang kota Jakarta ini, ia ditetapkan sebagai ibu kota negara Indonesia,
tepatnya terletak di pulau Jawa. Alasan kenapa aku pergi ke Indonesia, yang
pertama adalah tugas yang diberikan oleh atasanku untuk meninjau salah satu
cabang perusahaan di negaraku sana. Yang kedua, mengunjungi seseorang
yang sudah lama aku rindu-rindukan.
Terbang dari amsterdam hingga lepas landas
di Jakarta, membutuhkan waktu yang cukup lama, perkiraanku kalau tidak keliru,
sekitar dua belas jam. Tiba
di Jakarta pukul 5 sore dan langsung
segera menuju ke hotel terdekat dari bandara
itu, karena badanku
sudah menolak untuk meneruskan
perjalanan lagi. Sebelum ku pejamkan mata, ku buka surat yang masih aku
simpan dari seseorang yang ku rindukan, puluhan tahun silam. Di
surat itu tertuliskan.
Hoe is het Robret Rudsingha, semoga tuhan memberkati
mu selalu. Aku tertegun dalam takjub,
mendengar kabar dari
kawanku bahwa kau telah lulus dari universitas itu dan tak ku duga kau bisa menyamai
rekorku. Apakah kau ingin
melanjutkan studimu itu? Aku harap, kau melanjutkan di jenjang berikutnya, karena
satu dan lain hal, belajar tidak akan ada habisnya sampai kita telah selesai di
dunia. Oh ya, kabarku hari-hari ini, berkat sayangnya tuhan, aku dalam kebaikan.
Meskipun negara ini sedang tidak baik-baik saja, tiap orang tahu itu dan ada
baiknya jika engkau tidak membalas surat ini, karena ditempat yang aku singgahi
jauh dari pusat perposan, jika engkau nekat untuk membalas, ya sama saja surat
itu tidak akan menemuiku.
Mungkin aku sudah
tidak bisa lagi ke negaramu Robret Rudsingha, aku sudah tua dan pasti kau tau
itu, kau yang masih muda, kemarilah ke Indonesia, jika tuhan memberikan waktu.
Aku sekarang tinggal di kota Salatiga. Moga-moga saja kau bisa berkunjung
disini dan aku tak pindah di tempat lain.
Dari Djaiman .
Di surat itu, tahulah
aku dimana Prof Djaiman tinggal, sebelumnya beliau pernah bilang padaku bahwa
tempat tinggalnya berada di kota Jakarta, kota gedung itu. Dan
prof Djaiman tak menyertakan alasan
kenapa memilih pindah di kota Salatiga dan katanya lagi negara Indonesia
keadaanya sedang tidak baik. Selumbari hari sebelum menerima surat ini, ada surat
kabar yang mewartakan bahwa Indonesia sedang berada di kondisi krisis ekonomi.
Malam terlewatkan begitu cepat, bisingnya suara kendaraan membuatku terbangun dari tidur.
Pagi
hari ini, aku mengemas kembali barang-barangku dan memberesakan diri. Kemudian segera ku gerakkan kaki menuju
terminal Jakarta
untuk mencari bus yang berpangkal di kota Salatiga. Setelah menunggu beberapa
jenak bus Salatiga akhirnya datang. Bus Safari yang telah membawaku dalam
perjalanan yang tak mungkin aku
lupakan ini. Ah, Indonesia. Akhirnya, aku injak juga
tanahmu. Prof
Djaiman,
aku disini.
Selama perjalanan
aku teringat pada salah satu cerita Prof
Djaiman yang menggajal pikiranku pada negara asalnya ini, beliau berkata dengan
penuh kewibawaan saat itu.
Indonesia adalah negara yang besar, besar dari wilayahnya, pulaunya. Lepas dari itu, budaya nya, tradisinya tak ada yang bisa
menandingi saking beragamnya. Namun, semua itu hanyalah wadah besar semata bagi
negaraku, sedangkan isinya aku tak berani menjaminnya..
Biar mudah, Kuperkenalkan terlebih dahulu
siapa itu Prof
Djaiman. Beliau dulunya
adalah seorang mahasiswa Leiden angkatan tahun 85, beliau menjadi mahasiswa
terbaik dan mampu mematahkan rekor nilai tertinggi di Leiden. Atas kecerdasan
beliau, Prof Djaiman telah memperoleh tawaran dari rektor Leiden untuk menjadi
dosen sekaligus mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya S2 bahkan sampai doktor sekalipun. Ibarat pepatah
satu gayung dua pulau terlampaui. Prof Djaiman menerima tawaran yang
mengembirakan itu. Sejak saat itu lah beliau menjadi mahasiswa sekaligus
menjadi dosen. Para mahasiswa junior sampai senior pun terbelalak kagum
dengannya.
Prof Djaiman, satu-duanya dosen di Lieden yang terkenal dengan cara mengajar yang unik. Ini yang menjadi nilai lebih daripadanya. Walaupun dengan nama besarnya itu, Prof Djaiman tak terlihat sedikitpun memandang rendah yang lain, beliau tetap menjadi orang biasa. Masa tempuh pendidikan Prof Djaiman di Leiden, kira kira berlangsung kurang lebih tujuh tahun. Dari S 1 beliau hanya membutuhkan waktu tiga tahun, dua tahun untuk S 2 dan S 3 juga dua tahun. Dan untuk gelar profesornya beliau memiliki beberapak arya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi. Yang paling membanggakan Prof Djaiman selalu menjadi yang terbaik sekaligus pemecah rekor nilai di ajaran sebelumnya. Jika ingatanku tidak salah, Tahun 96 merupakan tahun terakhir bagi Prof Djaiman. Kali waktu acara perpisahan mahasiswa, Prof Djaiman dinobatkan sebagai lulusan terbaik sekaligus dosen terbaik. Para mahasiswa dan dosen bertepuk tangan memeriahkan penobatan itu. Kalimat perpisahan dari Prof Djaiman sangatlah mengena di hati dan membuat pelupuk mata semua orang yang menyaksikan, memuntahkan airnya. Di akhir kata, beliau mengatakan, bahwa selepas sudah kelulus doktoralnya ini, prof Djaiman memohon untuk mengundurkan diri dari jabatan dosennya dan nantinya beliau akan kembali ke negara asalnya. mengabdi kepada Indonesia.
Ah, tak sabarlah aku bertemu lalu menyapa mu wahai Prof
dan sekarang prof,
apakah kau sudah
menjadi orang pembesar di negaramu?
Hubunganku dengan prof Djaiman, bisa
dikatakan dekat. Ini adalah sebuah
kenikmatan yang tiada kira yang tercurahkan padaku, bagaimana tidak, para teman
teman ku mengatakan bahwa untuk mendekati seorang Prof Djaiman adalah pekerjaan
super sulit luar biasa dan mereka membujukku agar mereka dikenal oleh seorang
prof Djaiman. Tapi beginilah adanya, aku ceritakan apa adanya,
saat aku mengenal beliau.
Pada saat kali pertama menjadi mahasiswa
baru leiden, aku bersama teman temanku mencari penyewaan rumah yang dekat
dengan universitas leiden, teramat
banyak aku ketahui, tapi amat sayangnya, harga sewa rumah dipatok dengan harga
yang tinggi. Jika dihitung
hitung, uang ku tidak akan mencukupinya, saat teman teman ku tahu, bahwa uangku
tidak sanggup untuk menyewa rumah itu, mereka mengatakan kepadaku, jangan
dipikir, kami bisa membantumu. Aku berterimaksih
dengannya, tetapi
tetap saja hatiku tidak enak, akhirnya aku tolak kebaikan hatinya dengan
baik-baik. Teman teman ku pun pada akhirnya tetap dipilihan
penyewaan rumah tadi dan aku yang akan mencari rumah yang sesuai dengan isi
dompetku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Saat di perkuliahaan nanti,
aku tak akan mempersulitkan perekonomian orang tua, sebisa mungkin aku akan
mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai belajar ku ini. Kata pepatah, orang
tidak akan habis kebaikannya. Di Saat aku bertanya tanya orang dari satu
distrik ke distrik lainnya, semua dari mereka menggelengkan kepala alias tidak
ada penyewaan rumah yang murah di sekitar leidein, ia menyarankanku untuk ke Boerderhal
krachtstof, karena di wilayah situ rumah sewa banyak yang kosong dan
tentunya orang yang punya akan semang menyewakan kepada seseorang yang
membutuhkan, berapa pun nilainya. Tapi siapa sangka, saat aku bertanya dimana
wilayah Boerderhal krachtstof itu berada, ia mengatakan Boerderhal
Krachtstof berjarak sekitar 2 Km dari leiden.
Oh
tuhan, 2 km, dengan apa aku akan berangkat kesini? pikirku.
Ku
hitung hitung lagi uang saku ku dan
lagi lagi juga tak mencukupi jika aku berangkat dari wilayah itu naik taksi,
pikiranku kacau-balau, sekejap
terlintas di otakku, tidak lah mengapa, biar uangku cukup untuk biaya
perkuliahan.
Masalah sampai tidaknya
kesini, biar aku berjalan dari pagi pagi buta. Ini demi mencari ilmu aku
rela berjalan 2 km setiap hari.
Alangkah kebenerannya, saat aku hendak
mencari taksi, tidak lama taksi lewat dari depanku, akupun langsung
memanggilnya, taksi
berhenti langsung
aku masuki
dan ku katakan kepada sopir taksi wilayah Boerderhal krachtstof
tujuanku.
Siapa sangka hari itu adalah hari keberuntunganku, sopir taksi ini juga
berasal dari wilayah itu dan
ia pun mengetahui penyewaan rumah paling murah disana. Setelah sampai aku membayarnya dan taksi kembali ke
muaranya, sedikit sedikit aku betanya tanya dengan pemilik rumah, benar kata
orang orang bahwa disini, di wilayah lyoit, penyewaan rumah kos banyak
yang tak berpenghuni, kemudian setelah biaya dikondisikan, pemilik rumah
mengatakan bahwa rumah kosan sebelah kiri rumah kosan ku, juga terdapat
penyewa. Aku pun mengangguk senang, dalam hati
berkata, syukur, ada orang yang juga
tinggal disini.
Setelah merapikan semua bawaanku, yang
terdiri dari koper baju, koper buku-buku serta pelengkap lainnya, ku rebahkan
badanku, karena besok, aku akan menempuh jarak yang sebegitu jauhnya.
Ah, malam terasa begitu cepat, ayam dari pemilik rumah
pun sudah menyahut nyahutkan kokok annya, ku lihat jam dinding yang berada di tembok kamarku.
Mungkin waktunya mencukupi
jika aku membereskan diri kemudian berjalan 2 KM itu. Setelah mandi, sarapan telah tersajikan di ruang depan
oleh kebaikan pemilik rumah kos itu, oh ya, nyonya Heft adalah nama pemiliknya,
lalu ku masukkan buku kedalam tasku dengan semangat aku mulai berjalan dan aku
siap untuk lelah.
Perjalanan kaki ini, kali
pertama aku bersemangat sekali, bahkan ku beranikan untuk berlari-lari seperti
joging, karena hari ini adalah hari pertama ku belajar di universitas yang
diimpikan banyak pelajar.
Tuhan, aku
berterimakasih denganmu,karena engkau telah mengabulkan keinginanku dan telah
menjadikanku untuk belajar lebih giat lagi. Di udara pagi lyoit itu, ingatanku
kembali menulusuri pada tahun tahun yang lalu, seberapa payahnya perjuanganku
saat itu hingga menjadikan ku dapat menimba ilmu di negara kincir angin ini. Yang
akan pasti terjadi maka
terjadilah, lambat laun, kaki ini sudah memprotes untuk berlari, jadilah
kemudian aku berjalan seperti biasa, sampai sampai aku
berjalan dengan sempoyongan. Sungguh
melelahkan. Rasa
rasanya aku sudah berjalan melebihi 2 KM tapi ada tulisan di plang rambu rambu
jalan bahwa, universitas
leidein strip 1 KM. Sarapan tadi pagi, terbilang sudah banyak, tapi kenapa
perut aku kembali keroncongan, botol ditasku pun lupa aku isi ulang saat
dirumah kosan tadi. Mau tidak mau, aku istirahatkan tubuhku di bawah pohon
samping jalan dan buku di tasku ku ambil untuk ku kipas-kipaskan. Keringat
keringat mengembun begitu cepat lalu menrocos. Orang yang melihatku akan
menduga bahwa sehabis mandi aku tak menghandukinya, beberapa kemudian, saat
hendak aku kembalikan niat untuk berjalan lagi, mobil civic melaju perlahan
menghampiriku, apa ada sesuatu denganku? Heranku.
Seorang berjaz hitam membuka
mobilnya, dengan melihat wajahnya, ku kira mr ini berkepala empat dan tak
taulah yang kupikirkan sekarang adalah kenapa dia menghampiriku ?
Kemudian
mr ini bertanya kepadaku,
hendak kemana nak? aku
pun menjawab hendak
berangkat ke leiden. Dan apa kata mr ini selanjutnya, mau berangkat bersama ke
leiden?. Dengan
wajah ceria ku jawab, terimkasih mr atas kebaikannya.
Kemudian di dalam mobil kami
berkenalan. Ia mengaku
bernama Djaiman dari
Indonesia.
Dan baru aku tahu bahwa penyewa
rumah yang berada di samping
rumah kosan ku, tak lain adalah Prof Djaiman. Sebab itulah aku kenal dekat
dengan beliau, layaknya anak dan bapak.
Ingatan ku ini akhirnya terbuyarkan oleh
kondektur bus yang sudah menariki karcis penumpang di pojok belakang,
sebelumnya, para
penumpang lainnya aku tanyai terkait harga naik bus ini, tetapi mereka tidak ada yang paham mungkin karena aku menanyainya
dengan bahasa belanda, namun
saat aku kembali bertanya menggunakan bahasa inggris, satu dua dari banyaknya
penumpang terdapat juga yang memahami.
Manakala
aku sedang menunggu kondektur menariki bagianku, ku sapukan pemandangan
sepanjang jalan itu dan
kesabaranku mulai menipis untuk bisa lekas lekas bertemu dengan profesor ku.
Prof Djaiman.
Beberapa jenak, seseorang bertopi dan
berseragam semacam kondektur
memegang bahuku, itu
tandanya pembayaran
biaya sedang ditarik, namun
tiba tiba saja uang yang sudah aku siapkan tadi entah kemana ribanya, mau tidak mau aku
ambilkan uang di dompet lagi, dan berapa nominal rupiahnya pun, aku juga lupa.
"Seratus ribu sir, uang yang berwarna
merah" (dengan bahasa belanda)
Perkataan
itu, ku dengar dari kondektur tadi, kenapa bisa ia tahu bahwa aku orang
belanda, pikirku. Oh, ya, karena di luar koperku ada bendera merah putih biru dan bertuliskan Nadherland.
Tapi, siapakah kondektur tadi,
kok bisa bisa nya mahir bahasa belanda
tanpa terdengar
logat bahasa Indonesia
sedikitpun? tanyaku
dalam hati.
Uang yang berwarna merah aku ambil dan
segera kemudian aku serahkan kepada kondekturnya, dan kondektur berkata
terimakasih kepadaku.
Dari nada berbicara kondektur itu terlintas olehku, seperti pernah mendengar suara itu , bagaimana nada bicara
itu disuarakan,ku lihat kondektur yang sudah kelihatan tua itu berjalan maju
dengan sempoyongan menariki pera penumpang satu persatu hingga akhirnya ia
kembali berjalan melewatiku,
Tiba
tiba saja, entah karena angin atau apa, topi komdektur terlepas dari kepalanya
tepat dibawah tempat dudukku, tanpa tunggu detik, aku ambilkan topi komdektur
yang jatuh itu,saat topi aku serahkan, oh tuhan, oh tuhan, Prof Djaiman apakah
itu kau? Batinku
Kondektur
itu tersenyum dan mengatakan terimaksih (bahasa belanda) kepadaku,aku pun menjawab sama-sama.
Keteganganku
sedikit menebar, apakah ia benar prof Djaiman apa bukan?, bisa juga aku salah
melihat, Jika benar ia Prof Djaiman, kenapa ia tak tampak mengenaliku? Tidak
mungkin prof Djaiman lupa dengan wajahku, Tapi wajahku yang dikenali prof
Djaiman itu sudah dua puluh tahun lalu, apakah tidak berubah? Ditambah lagi
kondektur itu bisa bahasa belanda, bukankah itu bisa jadi tanda-tanda ,bahwa
kondektur itu, tiada lain Prof Djaiman. Namun kenapa Prof Djaiman di sini
menjadi seorang kondektur bus?
Pertanyaan-pertanyaan besar menetas di otakku tentang apakah itu
prof Djaiman ataukah bukan?, tanpa berpikir apapun lagi, seketika ku panggil nama
prof Djaiman dari tempat dudukku, apa yang terjadi,
kondektur itu lah menoleh dan melihat kepadaku.
Tak
memperhatikan
bus sedang melaju dengan kencangnya, segera aku berdiri dari tempat dudukku dan
berlari menemuinya, dan aku berkata pada prof Djaiman
"Prof
Djaiman, saya Robret
Rudsingha, dari belanda, muridmu di leiden."
Prof
Djaiman membuka setengah
dari kecamatanya dan ekspresi wajah beliau berubah dengan seketika, dan kemudian,aku pun
memeluk Prof Djaiman seorang kondektur itu. Di antara kami berdua,saling
menitikkan air mata, suara
tangisan kami terdengar sampai para penumpang pada berdiri untuk melihat,
bahkan sopir busnya pun memberhentikan busnya untuk mengecek sedang terjadi
apa.
Mungkin
perkiraanku,
mereka bertanya-tanya, kenapa ada orang di lain negeri berpelukan
dengan seorang kondektur tua?
Tapi,tak
aku hiraukan, sorotan
mata mereka kepadaku, dan
tak ada bosen bosennya aku terus memeluk Prof Djaiman.
Saat setelah sudah sampai tujuan, yakni
kota Salatiga, prof Djaiman mengajakaku
di sebuah tempat duduk, dan ia mulai bertanya, bagaimana kabarmu, bagaimana kabar leidein, apakah kau sudah lulus
atau bahkan kau sudah menikah, jika sudah mana istrimu, tak kau ajak?,.
Aku
tersenyum, hatiku pun ikut tersenyum, ia menanyai dengan tulus laiknya aku
seorang putranya, Mengingat
dua puluh tahun silam, saat
aku mengantarkan prof Djaiman di bandara Amsterdam, beliau berkata, Jangan
lupakan gurumu rRdsingha dan pastinya gurumu akan
mendoakan selalu
muridnya.
Namun
ada sesuatu yang mengganjal di hatiku
pada Prof Djaiman sekarang,dan itu aku pertanyakan kepadanya?
“Prof
Djaiman, bolehkah aku
bertanya?”.
“Tentu
saja boleh, muridku”.
“Dulu
prof di sana menjadi seorang yang terpandang, tapi kenapa di sini, di
negaramu sendiri, Indonesia
Prof, kau menjadi seorang kondektur bus?”
Prof
Djaiman tidak langsung menjawabiku, ia alihkan pandanganya ke atas langit, sembari menghelakan nafas
tuanya, lalu ia mulai berbicara.
“Robret Rudsingha, muridku, camkan ini baik-baik,
manakala aku ingin memilih sesuatu dan itu tidak tersampaikan. Aku tidak
bekecil hati. Kenapa? Karena Aku sangat bahagia dengan apa yang telah
dipilihkan oleh tuhan atasku saat ini. Bukankah pilihan tuhan itu yang terbaik?”.
Komentar
Posting Komentar