“He miskin, kalau kamu syirik sama aku bilang
saja, ndak usah hal remeh kaya begini kamu perbesar”.
“Muka begundel, anda tahu apa he, orang
sombong ndak punya adab. Percuma kaya tapi miskin adab”.
“Anak yatim sok-sok an ya”.
“Djancok”
Kepala
sekolah lari terbirit-birit menuju ke ruang kelas 12 C, beliau kaget luar biasa
setelah diberi kabar dari murid ruang kelas sebelah. Bahwa di ruang kelas 12 C
ada yang berkelahi.
“Ini ada apa ini ha? Man Yalek, Sinai berhenti!.
Ketua kelas mana ketua kelasnya?” Lantang kepala sekolah bertanya, seketika Man
yalek dan Sinai berhenti berkelahinya dan ketua kelas mengangkat tangannya
dengan gemeteran. Kalian bertiga ikut bapak ke kantor!.
Mereka
bertiga keluar dari kelasnya seperti sedang pertunjukkan sirkus, mereka menjadi
bahan tontonan, kabar berkelahinya Man Yalek dengan Sinai sudah tersebar luas
di kelas-kelas. Muka Man Yalek terlihat bengkak, hidung Sinai berlepotan darah.
Sedang ketua kelas terlihat begitu ketakutan, karna ia nantinya akan diminta
menjadi saksi.
Setelah
tiba di ruang kantor, persidangan dimulai. Kepala sekolah pertama-tama bertanya
kepada Sinai, kenapa kamu berkelahi, namun Sinai mendiamkannya. Man yalek juga
tak berbicara sepatah kata pun, ketika ditanya persoalan yang sama. Ketua kelas
menjadi solusi terakhir bagi kepala sekolah untuk mengetahui duduk perkara
sebenarnya. Dengan keadaan serba ketakutan ketua kelas menceritakan keadaan di
ruang kelas 12 C satu jam yang lalu. Yang kira-kira seperti ini.
Jam
ke dua di kelas 12 C mapelnya ilmu sejarah dan pada kesempatan kali ini guru ilmu
sejarah sedang berhalangan hadir, pak Azam namanya. Namun beliau telah
menitipkan tugas kepada bu Lina untuk berkenan memberi tahu kepada murid kelas
12 C bahwa pak Azam sedang absen mengajar dan sebagai gantinya semua murid
kelas 12 C ditugaskan untuk membuat opini tentang kepahlawanan. Dan kemudian
setelah selesai menulis, diharapkan bagi ketua kelas untuk membagi nama murid untuk
berkenan maju ke depan kelas mempresentasikan opini yang ditulis.
Para
siswa-siswi kelas 12 C sebenarnya tidak begitu berantusias, namun persoalannya
tugas opini ini nantinya bakal dijadikan nilai tambahan bagi siswa-siswi kelas
12 untuk ujian sekolah di bulan mendatang. Mau tidak mau dengan sedikit
terpaksa mulailah semua mengambil bolpen, selarik kertas dan mulai menulis
judul yang bertema pahlawan.
Mapel
ilmu sejarah di jam kedua berdurasi satu jam setengah. Para murid terlihat
begitu fokus membuat tugas. Waktu tiga puluh menit pertama akhirnya sudah
lewat, target waktu menulis opini sudah habis dan untuk satu jam selanjutnya,
waktu mempresentasikan opininya masing-masing. Ketua kelas sudah bersedia untuk
membagi nama-nama siswa yang akan mempresentasikan opininya. Sebanyak tujuh dari
laki-laki dan lima delapan lainnya perempuan. Jadi untuk satu orang memerlukan
waktu selama lima menit untuk mengisi tugas presentasi.
Man
Yalek, murid kelas 12 C yang sangat cinta ilmu sejarah, mengajukan diri ke
ketua kelas untuk dapat mempersentasikan opininnya terlebih dahulu, penawaran
Man Yalek disambut gembira oleh teman-temannya. Sebab diambil dari pengalaman orang
yang melakukan sesuatu di awal pasti dijadikan bahan kelinci percobaan oleh
orang lain. Namun mereka salah menganggap korban. Man Yalek dapat menguasai isi
dari opininya dengan sempurna. Tanya jawab baginya pun dapat dipuaskan dengan
begitu mudah. Dikarenakan kelinci percobaan pertama gagal, maka peserta kedua
ini yang bakal dipaksa jadi bahan percobaan selanjutnya. Begitu Ketua kelas
menawarkan siapa yang ingin maju ke depan kelas untuk mempersentasikan
opininya, semua murid membisu, ruangan kelas seperti ruang hampa yang tak
berpenghuni. Mau perbuat apalagi, akhirnya dengan solusi yang seperti biasa pak
Azam lakukan, ketua kelas mengambil map absen dan menyebutkan nomor absen yang
bertepatan pada tanggal hari ini.
14,
Sinai Maturangi, silahkan maju kedepan. Begitu ketua kelas memanggil, Sinai, teman
kami yang paling pintar, maju ke depan kelas dengan begitu percaya diri. Mungkin
kalau dibandingkan dengan Man yalek dalam hal imu sejarah dapat dikatakan mereka
sebelas-dua belas, nisbi.
Sinai
mengangkat opininya dengan judul, alasan Soekarno dianggap sebagai pemain
dibalik layar peristiwa 30 S PKI. Judul sedikit menarik untuk tema
kepahlawanan. Di pendahuluan, Sinai menjelaskan peristiwa singkat 30 S PKI
kemudian dalam pembahasannya ia mulai memetik refrensi dari sebuah buku yang
judulnya sejarah di balik 30 S PKI yang menganggap Soekarno merupakan dalang
dari peristiwa yang memilukan itu. Namun baru setelah menjelaskan tentang
alasan-alasan yang dikemukakan, tangan kanan Man yalek mengangkat, Sinai yang
mengetahui tingkah laku Man yalek hanya mendiamkan saja, seolah-olah tidak
mengetahui. Teman-temannya terlongok-longok terdiam. Sejurus kemudian Man Yalek
memukul meja depannya dengan sangat keras sambil berkata , INTRUPSI !!
Ketua
kelas kebingungan dengan kondisi ini, biasanya tanya jawab diberikan kepada
penanya di sesi setelah penutup, namun ketua kelas tetap tidak bisa
mengkondisikan intrupsi dari Man yalek. Dari pihak yang diintrupsi, Sinai
merasa diremehkan, dengan wajah marah Sinai bertanya kepada Man yalek.
“Apa yang mau diintrupsi, ini semua yang aku
katakan ada refrensinya”. Man yalek sejurus menjawab dengan nada menahan
amarahnya.
“Saya mohon maaf teman-teman atas tingkah saya
tadi, memang waktu tanya-jawab di sesi setelah penutup, tapi”.
“Tapi apa ha? Kamu iri ya Man, opini ku lebih
bagus darimu? Ngaku saja!” Kata Sinai memutus perkataan dari Man Yalek.
“Tapi anda tidak mempunyai adab berbicara”.
Semua
kelas 12 C terpaku di kursinya masing-masing, tidak ada satu orang pun yang berencana
ingin menengahi percekcokan antara Man yalek dengan Sinai. Bukannya mereka
takut karena kalah dari segi fisiknya, tapi kalau salah satu dari mereka berdua
melakukan hal yang kelewatan batas hanya guru pak Azam dan kepala sekolah yang
dapat menghandle nya.
“Adab bagimana yang kamu maksud?” tanya Sinai.
“Makanya kalau ada orang ngomong dengerin
dulu, anda tadi nyebut pak Soekarno pak harto sak enaknya saja, Soekarno, Harto,
Hatta. ndak ada paknya”.
“Memang apa yang di permasalahin Man? Ha, apa?”
“Lha itu, anda ndak punya adab, seharusnya ada
tambahan paknya. Gak sesuka batukmu itu”
“Haha, kamu jangan sok, jangan nyalahin aku
sendiri, pak Azam sendiri juga seperti itu, berani kamu nyalahin pak Azam?”
“Kalau memang omonganmu benar, berarti pak
Azam juga tidak punya adab”.
Semua
siswa-siswi kelas 12 C kaget bukan alang kepalang dengan pernyataan Man Yalek bahwa
pak Azam tidak punya adab. Kali ini semua siswa 12 C tetap tidak ada yang berani
berbuat apa-apa. Mereka tetap diam di tempat duduknya masing-masing. Namun
sebenarnya apa yang telah dikatakan oleh
Man yalek kalau di pikir-pikir memang ada benarnya. Dan mereka mulai tersadarkan
sebab omongan Man Yalek tadi. Menurut budaya Indonesia atau lebih spesifiknya
tata krama, antara yang muda dengan yang tua, dalam hal perdialogan memang ada
tata aturan, moral dan adabnya. Misalnya kalau orang jawa berbicara dengan yang
lebih tua harus sopan harus menggunakan bahasa kromo inggil. Kalau untuk bahasa
nasional Indonesia, juga pasti harus sopan dan minimal memanggil kepada orang
yang lebih tua tidak langsung dengan namanya. Tapi permasalahan Sinai memanggil
nama sang poklamator dengan panggilan Soekarno saja, kalau diamati, sebenarnya
sudah lazim. Banyak sekali dari murid, guru, dosen bahkan sekelas profesor
sekalipun berkata sebagaimana Sinai berkata. Bahkan di buku-buku pelajaran yang
sering ditemui juga tidak pernah menyertakan nama pak. Hanya namanya saja.
Percekcokan
antara Sinai dengan Man yalek semakin lama semakin panas, bahkan sudah tidak
mempersoalkan hal tadi, mereka berdua sudah sampai mengolok-olok tentang
pribadi kehidupanya.
“He miskin, kalau kamu syirik sama aku bilang
saja, ndak usah hal remeh kaya begini kamu perbesar”.
“Muka begundel, anda tahu apa he, orang
sombong ndak punya adab. Percuma kaya tapi miskin adab”.
“Anak yatim sok-sok an ya”.
“Djancok!”
Amarah
Man yalek sudah tidak dapat ditahan lagi. Terlihat tangan Man yalek mengepal menekam
sekencang-kencangnya, kemudian ditujukan ke wajah Sinai. Sinai belum sempat menghindar,
akhirnya tangan Man yalek mendarat di hidung Sinai. Mengetahui hidungnya
berdarah, Sinai membalas dengan tendangan kaki kanannya mengenai perut Man
yalek. Beberapa bentar kemudian, kepala sekolah datang dan memisah Man Yalek
dan Sinai yang sedang berkelahi.
“Intinya
begitu pak, hanya karena Sinai tidak menyertakan kata pak di nama pak Soekarno”
jelas ketua kelas panjang lebar. Kepala sekolah termangut-mangut mendengarkan
penjelasan dari ketua kelas dan sedikit terhenyuk tak menyangka terhadap
alasanya Man Yalek. Kini kepala sekolah
kebingungan hendak bagaimana menyikapi peristiwa ini, apa kepala sekolah ingin
menyalahkan Sinai atau Man yalek?.
Kemudian kepala sekolah mengatakan kepada Man
Yalek dan Sinai siapa yang ingin meminta maaf dahulu. Diantara Man yalek dan
Sinai tidak ada yang memulai meminta maaf. Tiba-tiba saja ketua kelas unjuk
bicara ia meminta maaf atas kejadian ini,
sebagai penanggung jawab kelas ia tidak melakukan suatu upaya apapun
untuk dapat meredakan emosi antar kedua temannya tersebut. Kepala sekolah kemudian
memosisikan persoalan tadi ke Man yalek dan Sinai.
“Sinai minta maaflah sama Man yalek”
“Aduh pak, memang apa salahku, hanya persoalan
remeh saja diperbesar. Pak Azam sama guru lainnya bahkan pak kepala sekolah
sendiri biasanya juga mengatakan seperti tadi”.
Kepala sekolah terdiam, dalam hatinya kepala
sekolah berkata, perkataan Sinai memang benar adanya. Kemudian kepala sekolah
beralih berkata kepada Man yalek.
“Man yalek, memang perkataan nak tadi benar
tapi lagi-lagi ini sudah lazim di ucapkan tanpa besertaan nama pak”.
”Itu tetap tak punya adab namanya pak, bahkan
sama pejuang negara kita sendiri berani memanggil hanya nama nya. Bapak berani
memanggil nama orang tua bapak langsung namanya? Apa karena ia sudah meninggal
lantas bisa berbicara sesukanya. Walaupun sepintar apapun seseorang tapi kalau
tidak punya adab pak, ia sejatinya lebih busuk dari anjing”.
Di tengah tengah ruang kantor,
terdapat para guru yang sebenarnya sejak dari tadi mengikuti alur persidangan
dan ikut mendengarkan permasalahannya, mereka seketika terhenyuk kaget dengan
perkataan Man Yalek. Dengan tiba-tiba saja Man Yalek berdiri dari tempat
duduknya dan berkata dengan lantang.
“Para bapak ibu guru sekalian yang tidak saya
hormati, kalau pendidikan di Indonesia begini terus, nasib masa depan Indonesia
bagaimana pak buk? Adab itu di atas ilmu, seenak batuknya saja memanggil
nama sang ploklamator dengan sebutan Soekarno, Hatta saja. Percuma gelar
sarjana kalian tapi belajar kesopanan saja kurang bisa, akibatnya ya seperti
Sinai ini, menganggap hal tersebut hal yang kecil dan remeh. Padahal ini yang
paling penting. Aku katakan sekali lagi, Adab, adab dan adab. Bapak ibu guru
semua belajarlah adab dahulu kalau merasa sudah pinter beradab baru mengajari kami’’.
Komentar
Posting Komentar