Langsung ke konten utama

Judul episode ini: kecacatan hidup.

Sebelumnya mohon maaf apabila ada hati yang tersinggung

Judul episode ini kecacatan  hidup.

            Indonesia sekarang masih dalam tanda kutip belum merdeka, masih terjajah oleh orangnya sendiri. Saling dobrak, saling tembak, saling kepal mengkempal. Banyak sekali masalah yang pasti muncul dan itu tersengaja. Oleh oknum-oknum yang seharusnya dikubur hidup-hidup. Di akhir beberapa bulan belakangan, bencana aceh dan semenanjung sumatra, banjir bandang, dimana para masyarakat indonesia menyakini bahwa bukan hanya tuhan saja namun juga dipelopori oleh ulahnya para bajingan keparat. (kata ini terlalu lembut sebernarnya untuk disebutkan).

            Ilmu pengetahuan alamnya sudah mematenkan, terjadinya banjir bandang, penyebabnya ada bermacam-macam. Alam yang digunduli, salah satu faktor terbesarnya. Dan itu terjadi di sana.
dan sebenarnya kali ini yang harus dihadapkan bukan langsung presidennya, namun mentri kehutanan, yang membutakan mata, atau membisukan mulut. Bukti paling nyata, ribuan gelondongan kayu, terseret arus banjir hingga mendobrak tempat tinggal manusia. Ribuan hektare tanah, semenanjung sumatra telah dipadang-gersangkan entah dieksporkan atau diproduksi sendiri itu rahasia yang diatas kursi.

             Satu pertanyaan kepada dewan yang haus hormat, tujuan hidup bapak, sebenarnya apa? Politik semuanya sudah tidak mentereng nama kejam lagi namun sudah bengis, tidak ada hati nurani, rasa belas kasih sudah tertutupi oleh rasa keangkuhan diri. Dwancok!.

            Kawan, paragraf tiga keatas ini, sengaja aku tuliskan, dan ini murni lahir dari sanubariku, melihat kondisi dan situasi indonesia yang begitu memilukan, keadaan yang sudah tergelapkan oleh banyak sekali penjahat-penjahat politik. Dengan atas nama kesejahteraan. Dengan dalih Rakyat, rakyat dan rakyat. Kawan, kita tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi di kerajaan bertahta kemuliaan di sana, sedang apakah mereka rencanakan untuk negara indonesia tercinta ini. Apakah sudahi saja indonesia ini, sudahi republik ini, biar hancur lebur seperti sedia kala, sebelum para revolusioner bergerak.

            Kawan, ini hanya sebagai pendahuluan, mohon maaf pembaca, ketikan abjad huruf per huruf ini begitu terdengar keras, namun yang mengetik ini bukan otakku namun hatiku. Dan  untuk paragraf selanjutnya ini, aku akan tuliskan, pemandangan yang sejauh ini belum pernah aku pandang di tanah borneo ini, terkait dengan judul diatas, kecacatan hidup. Dan lagi lagi mohon maaf bila ada tersinggung ditulisan ini karena ini adalah sebuah KESENGAJAAN BELAKA.

             
            ) Sawit dan kehidupan. (

Sejumlah aktivis alam, berteriak, mengaung-ngaung, berkoar-koar, “ Selamatkan hutan indonesia” selamatkan paru-paru dunia”. Berita media sosial, mewartakan tentang ini itu tentang eksploitasi alam, dampak, dan negatifnya. Kemudian lebih mendekat lagi, “pemerintah, dalang ini semua, semua penguasa berhati tengik, di pikirannya hanya ada uang-uang dan uang.” Postingan ini beribu berjuta like dan kolom komentar terpenuhi dengan komentar-komentar, “ otak pemimpin sekarang menjadikan lahan rakyat, untuk bisnis, semua hutan dibabat habis hanya untuk ditanam SAWIT.”

            Kawan, jujur !, bagaimana perasaanmu sekarang? Atas satu paragraf pendahuluan di tajuk
) sawit dan Kehidupan ( ? . apabila yang kawan rasakan sama seperti aktivis alam, seperti berita dan  postingan yang telah berkali-kali disebar luaskan. Maka mari kita lihat dengan sudut kacamata belakang. Ada satu fenomena yang tak bisa direkam oleh perasaan. Yang tak bisa diketik oleh air mata. Mari aku perlihatkan...

            Di sebuah sudut daerah pulau borneo ini, tumbuh sebuah komunitas, komunitas perantaun,- orang menyebutnya dengan istilah trans - yang telah pergi dari kampung halaman yang jauh nan sana. Rela menahan rindu, menahan belaian kasih orang tua, mengenangkan  senyuman manis anak-anaknya. Para perantauan ini melakukan ini, Demi apa?, Demi uang, bukan untuk memperkaya diri, namun untuk membiayai uang spp sekolah anak, biar anak punya pendidikan yang layak. Untuk keluarga, agar rumahnya terisi makanan yang layak untuk dikonsumsi. Mereka menjangkah pergi dari rumahnya bertujuan untuk itu, mereka berniat untuk mengubah keadaan ekonomi keluarganya agar lebih mapan. Dan dengan SAWITlah mereka terbantu untuk dapat meneruskan KEHIDUPANnya.

            al-kisah seorang peminggul keluarga bercerita kepada ku kawan, bahwa dia telah bertempat tinggal di pulau borneo ini sudah hampir belasan tahun, tepatnya disekitar tahun duaribuan. Bapak ini, telah merasakan berbagai macam kerja yang berkaitan dengan perusahaan sawit. Aku ketika mendengarkan al-kisah dari bapak ini, sedari awal sudah ada ketidak enakan hati, karena saat itu aku masih terngiang-ngiang apa yang telah aku pahami terkait sawit dan segala dampak negatifnya. Dalam pikiranku, sawit adalah sebuah hama yang telah merusak tatanan kehidupan alam, lingkungan menjadi tercemar, dan tentu saja karena ini adalah bisnis gelap yang dilancarkan oleh pemerintah. Namun ketika al-kisah bapak itu terus mendongeng, bertepatan pada cerita masa lalunya sebelum ditanah borneo ini, beliau bercerita,  pulau borneo ini bukanlah tempat singgahan pertama dari bapak ini, sebelum terjun di perhutanan sawit, beliau sudah mencari pengalaman di ibu kota, selama beberapa tahun. Sebuah pengalaman yang tentu saja diharapkan oleh para perantaun agar menjadi orang yang sukses. Namun pada kenyataannya ibu kota tidak senyaman yang dipikirkan, ibu kota merupakan manifestasi dari kerasnya dunia. Dunia terus bergerak dan berpihak kepada orang-orang yang saat itu beruntung. Lalu bagaimana dengan nasibnya orang yang tidak beruntung?.

      Apalagi pada tahun 90-an. Beliau mencari uang lewat pekerja kuli bangunan. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan stamina tubuh yang seolah-olah pantang untuk lelah. Dan outputnya pun tidak menjanjikan. Nasib untung ketika proyek pembangunan sudah selesai langsung dapat proyek lagi. Kalau tidak, pontang panting kesana kemari mencari lowongan mata pencaharian. Taukan kawan, bagaimana kota batavia modern itu, banyak sekali pekerja diseluruh antero indonesia juga ikut mengadu nasib di daerah itu, mereka berlomba-lomba untuk dapat menjadi nomor satu. dan diperingkat sepuluh keatas, harus bersedia menerima taqdir yang telah digariskan. Yang beliau jadikan nadi kesemangatan disetiap harinya ialah anak yang sedang menempuh pendidikan, anak yang semata wayangnya, diharapkan dapat merubah masa depannya untuk dapat lebih baik darinya. Beliau pernah mendongengkan al-kisah di tengah al-kisah ini. Ketika teman sepekerja rela makan hanya satu hari sekali hanya untuk membiayai anaknya yang sedang bersekolah. Saat itulah beliau membayangkan dan berpikir, apakah dirinya sanggup untuk membiayai anak untuk dapat menggapai pendidikan sampai dibangku perguruan tinggi. Dalam fakta yang begitu nampak kontras, Upah di jantung negara sudah tidak seberapa, ditambah biaya hidup yang enggan untuk disahabati, pada akhirnya endingnya begitu saja, tidak ada suatu peningkatan finansial. Maka dari itu, keputusan yang sangat pas dan tepat untuk mengubah nasib dari tanah para pelancong ke tanah merah borneo ini.

Ketika sudah pada tahap al kisah ini, hatiku terasa tertetesi sebuah embun yang dingin, menyejukkan. Aku melihat aktor bapak ini seperti laiknya bapakku. Dan bapak-bapak diseluruh dunia. Yang rela menempuh apapun tidak demi dirinya sendiri, namun anak, istri keluarganya. Pada saat itulah aku dapat memaknai kata sebenarnya dari “ayah”.

Dan saat al-kisah itu terjeda disela-sela perenungan, dalam benakku mulai mendidih, rasa kemarahan yang sudah penuh dan tumpah-tumpah, kepada siapa? Kepada kepemerintahan. UWASSU. Rasa-rasanya bapak yang menceritakan al-kisah ini, aku anggap dia terjebak oleh strategi  kotor dari pemimpin-pemimpin negri haha-hihi ini. Bagaimana tidak, bapak ini sudah menjalankan amanah tuhannya untuk mencari nafkah namun dipersulit oleh penguasa. Aku sadar, jadi pemimpin bukanlah yang mudah untuk dikatakan, namun kalau mau bertindak setidaknya berpikir dua kali, kalau yang namanya projek yang kontroversial bagi para pengkomentar, itu masih dimaklumi, namun ketika kejahatan yang memang tampak didepan bola mata, mau apa?. Apakah masyarakat disuruh untuk membutakan sendiri matanya, diperintah untuk membisukan mulutnya dan dianjurkan untuk mentulikan telinganya?. Contoh satu saja, KORUPSI. Walaupun yang mulia tuan presiden dan wakilnya tidak melakukan kriminalitas beradab itu, setidaknya sebagai pemimpin yang diagungkan yang ditinggikan, menyuruh para ajudan-ajudannya kepada bawahan-bawahanya untuk mendiskusikan bagaimana praktik haram itu bisa terclearkan, kalau tidak bisa, ya paling minimal terkurangi. Kalau sulit, mengapa mencalonkan diri, mengapa mengemis untuk dipilih, mengaung-ngaungkan melolong-lolongkan janji-janji entah ada niatan untuk ditepati atau hanya sekedar baliho. ARGHHH, JIANCOK TENAN.

            Yang saya maksud dengan bapak itu terjebak oleh strategi kotor adalah demikian: hidup memang keras dan untuk bisa melangsungkan hidup pun lebih keras. Tantangan pertama bagi seorang yang bernama bapak tiada lain nafkah. Tak layak disebut bapak kalau dengan nafkah saja tidak bisa atau bahkan belum mencari. Banyak sekali bapak-bapak yang tercecer di atas bumi ini yang tidak memenuhi standarisasi yang pertama. Lewat al-kisah awal, bapak yang saya aktorkan dalam tulisan ini, sudah terkonfirmasi dan layak untuk disebut bapak dengan landasan dia mengadu nasib di ibu kota. Namun dalam perjalanannya tidak semudah orang berucap. Akhirnya pun dengan insting ke-bapak-annya re aktif.  ia tinggalkan ibu kota, dan melanjutkan karir di tanah borneo barat. Sebagai apa? Sebagai pekerja atau lebih tepatnya karyawan yang berada di naungan perusahaan yang salah satunya menguasai hutan sawit. Nama PT nya lain kali saya sebutkan. Sementara ini, belum.
            Di dalam perusahaan tersebut, semua fasilitas dan kebutuhan yang paling mendasar bukan hanya tersedia namun disediakan. Pintu rumah dinas terbuka. siap dan layak huni. beras berkarung-karung. Gaji yang diterima sudah melebihi UMKM yang ada di pulau sebelah. Walaupun hanya menjadi seorang marbot masjid sekalipun. Hanya menunggu dan bersabar barang beberapa tahun, menjadi pelancong yang sukses. Dengan demikian apakah ada seorang bapak-bapak yang mencari kerja di rumah setempat susahnya minta ampun dan kemudian ditawari untuk bergabung di perusahaan ini tidak mau ikut. Saya rasa tidak. Namun sayang seribu sayang, hal tersebut ada dalam lingkaran hutan sawit yang sedari awal sudah saya singgung akan ketidak enaknya hati ketika mendengar kata sawit. Inilah strategi kotor pmerintahan. Silahkan setuju silahkan tidak.

Borneo Barat, Maret 2026 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 1

  Pada suatu siang aku bercerita kepada bunga melati yang ada dipot meja belajarku, tentang cerita-cerita yang mustahil untuk didengarkan, kepada manusia umumya. Maka dari itu sepanjang waktu siang hingga malam aku masih asyik berkisah, aku yakin bunga melati itu mendengarkannya namun hanya saja tidak mempunyai telinga seperti manusia, dan aku yakin dia mempunyai raut wajah dan mulut namun hanya saja tidak dapat dilihat langsung oleh manusia. Karena antara aku dan bunga melati itu mempunyai ruang dan waktu yang berbeda mempunyai nasib dan taqdir yang berbeda. cerita pertama yang aku kisahkan kepada bunga melati adalah tentang aku dan kucing. “dulu melati”, aku memulai bercerita dengan pandangan jauh kejendela kaca.. “aku punya kucing, kucing itu senang sekali kalau dipanggil dengan nama eong, tanda kucing itu senang dia sering membuat wajahnya begitu imut.  Dan saat itulah aku pun tergoda olehnya. Kucing itu setiap paginya, membangunkanku dengan elusan bulu halusnya dipipi...

"TO CHANGE OUR HABITS"

         Banyak kebiasaan terbentuk bukan karena kita sengaja memilihnya, tapi karena kita tanpa sadar melakukannya berulang-ulang. Lama kelamaan, kebiasaan itu berjalan dengan sendirinya dengan tanpa sepengetahuan. Itulah sebabnya, mengubah kebiasaan bukan hanya soal keinginan atau niat saja, tapi lebih dari itu. kita harus sadar terlebih dahulu akan kebiasaan itu. Kita tidak bisa mengubah sesuatu yang bahkan tidak kita sadari ada dalam diri kita.        Jadi, langkah pertama untuk berubah bukan seketika bertindak, tetapi mulai dengan menyadari apa yang selama ini kita lakukan tanpa sadar. Dengan menyadari sesuatu, gerak-gerik kebiasaan tersebut akan segera nampak bagi kita, bahwa yang sedang kita lalui adalah sesuatu ini dan itu.      Ketika kita sudah begitu yakin dan berani merubah kebiasaan maka langkah yang kedua adalah tindakan. Orang biasanya terjebak dalam langkah yang kedua ini. percaya atau tidak, fase ini adala...

Sampai ditaqdirkan bersama kembali 2

               Ketahuilah Nina, sebelum kau ingin bercerita kepada ku saat sore itu, sudah aku persiapkan catatan surat kepadamu dan surat ini adalah surat perpisahan. Di kala kau bercerita dari awal hingga akhir, sungguh penderitaanmu penderitaan yang besar. Tapi   penderitaan yang paling besar untukku adalah perpisahan ini. Sejak kau berkisah tentang kehilangan teman-temanmu, saat kau kehilangan kucingmu, aku menangis, menangis tanpa henti, karena sebentar lagi aku akan kehilanganmu.              Aku tahu kau berduka Nina, Kau ditinggalkan oleh rasa cinta. Namun andai kau tahu Nina, perpisahan ini haqiqatnya bukanlah dirimu yang kehilangan tapi diriku. Sebab apa, sebab kali pertama ini dalam seumur hidupku bisa berjumpa dengan manusia yang sebaik engkau, sejelita paras engkau, engkau selalu menyiramiku dengan air kehidupan dan memandikanku dengan hangatnya sinar pa...